Unik! Kodok Ini Ternyata Bisa Menyala dalam Gelap

"Manusia tidak dapat melihat kodok labu menyala karena penglihatan manusia terbatas ketika melihat frekuensi warna sinar UV"
Kodok labu saat berada di habitat aslinya. (net)

KLIKPOSITIF -- Ilmuwan terkejut karena di alam sana terdapat hewan dengan kemampuan yang tidak disangka sebelumnya. Setelah diteliti di dalam laboratorium, seekor kodok labu (pumpkin toadlet) ternyata dapat menyala dalam gelap.

Kodok (toad) dikenal sebagai hewan yang penuh dengan bintik-bintik dan mempunyai kaki pendek sehingga mereka tidak bisa melompat tinggi seperti katak (frog). Beberapa kodok seperti kodok labu, memiliki kemampuan khusus dalam menghadapi predatornya.

Sebuah penelitian yang telah diterbitkan di jurnal Scientific Reports berhasil mengungkapkan sebuah metode unik dari kodok labu dalam berkomunikasi dan menakuti predatornya.

Sandra Goutte, seorang ahli biologi dari New York University sekaligus pemimpin penelitian menjelaskan bahwa cahaya dalam kodok tersebut hanya bisa dilihat menggunakan sinar UV (Ultraviolet).

Spesies yang dikenal sebagai Brachycephalus ephippium, berfluoresensi dengan pola yang tidak biasa ketika diletakkan di bawah sinar UV. Kodok labu yang berasal dari Brasil ini dapat mengeluarkan cahaya ketika dilihat oleh hewan lain dalam gelap.

Manusia tidak dapat melihat kodok labu menyala karena penglihatan manusia terbatas ketika melihat frekuensi warna sinar UV. Hanya hewan tertentu yang dapat melihat frekuensi sinar UV yang dapat melihat kodok labu menyala.

''Pola-pola fluorescent hanya dapat dilihat oleh mata manusia di bawah lampu UV. Di alam, jika mereka terlihat oleh hewan lain, mereka dapat digunakan sebagai sinyal komunikasi intra-spesifik atau sebagai penguat dari pewarnaan aposematic mereka. Itu bisa memperingatkan calon pemangsa mereka mengenai betapa beracunnya tubuh sang kodok,'' kata Sandra Goutte.

Kodok labu termasuk diurnal, artinya mereka akan aktif ketika siang hari. Itu memungkinkan fluoresensi mereka dapat dideteksi oleh spesies tertentu di bawah sinar matahari alami. Dikutip dari IFLScience, fluoresensi spesies itu berasal dari tulang ... Baca halaman selanjutnya