Produksi Migas Komersil Akan Segera Dilakukan di Sijunjung

"Alhamdulillah Plan Of Development yang diajukan KKKS Rizki Bukit Barisan pada 2018 ini telah disetujui oleh Bapak Menteri ESDM. Mudah-mudahan dalam satu atau dua tahun ke depan KKKS ini sudah bisa memproduksi migas secara komersil"
Kuliah umum bersama SKK Migas di Universitas Andalas Kampus II Payakumbuh, Jumat (12/4). (Ist)

PAYAKUMBUH, KLIKPOSITIF -- Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Wilayah Sumbagut, Avicenia Darwis menyebut, dalam kurun waktu satu atau dua tahun ke depan cadangan minyak dan gas yang terdapat di Kabupaten Sijunjung akan segera memproduksi migas secara komersil.

"Alhamdulillah Plan Of Development yang diajukan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Rizki Bukit Barisan pada 2018 ini telah disetujui oleh Bapak Menteri ESDM. Mudah-mudahan dalam satu atau dua tahun ke depan KKKS ini sudah bisa memproduksi migas secara komersil," kata Avicenia Darwis saat memberikan kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Andalas Kampus II Payakumbuh, Jumat (12/4).

Menurutnya, apabila nanti KKKS Rizki Bukit mulai memproduksikan migas secara komersil, maka Provinsi Sumbar akan tercatat sebagai salah satu daerah penghasil migas di Indonesia.

"Keberhasilan ini tentunya akan menjadi sejarah mengingat sebelumnya Provinsi Sumbar belum termasuk sebagai daerah penghasil migas," beber Avicenia Darwis

Sementara itu, Pengawas Internal SKK Migas, Doktor Insinyur Taslim Z Yunus menyebut, sampai saat ini cadangan migas yang terdapat di Kabupaten Sijunjung tersebut merupakan satu-satunya titik sumber cadangan migas yang ditemukan di Sumbar. Namun demikian, ia tidak menutup kemungkinan untuk ditemukannya sumber cadangan migas baru.

"Dengan ada pengembangan di lapangan, nanti akan coba dicari pada titik lain," terangnya.

Sumber cadangan migas yang berada pada cekungan Ombilin tersebut nantinya akan menghasilkan gas kondesat. Menurut Taslim Z Yunus, cadangan migas tersebut sebenarnya sudah ditemukan oleh Caltek semenjak 1980-an. Namun eksploitasi belum bisa dilakukan karena kebutuhan gas waktu itu belum terlalu signifikan, selain itu transpotasi produksi yang cukup jauh dari Teluk Bayur membuat proses produksi dinilai tidak ekonomis.

"Tapi berkat ... Baca halaman selanjutnya