Pihak Kepolisian Sumbar Akui Sulit Kembangkan Kasus Perdagangan Satwa Dilindungi, Sebab Hal Ini

"Kalau untuk mendapatkan pemburunya, kami terkendala dengan terputusnya jaringan perdagangan ini"
Barang bukti yang diamankan pihak kepolisian (KLIKPOSITIF/ Halber)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Ditreskrimsus Polda Sumbar mengibaratkan perdagangan satwa dilindungi diibaratkan dengan peredaran narkoba yang sering terputus .

Hal tersebut disampaikan Kasubdit Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Dotreskrimsus Polda Sumbar, AKBP Rahmad Hadi Purnomo, usai konferensi pers di Mapolda Sumbar pada Selasa 23 April 2019.

"Kalau untuk mendapatkan pemburunya, kami terkendala dengan terputusnya jaringan perdagangan ini," ujarnya.

BACA JUGA: Jual Kulit Harimau, Dua Pemilik Toko Antik di Bukittingi Dibekuk Polisi

Ia mengatakan, tersangka yang ia amankan dengan inisial S dan A tidak mengetahui pemburu yang menitipkan kulit harimau yang akan ia jualkan tersebut.

"Dari pengakuan tersangka, ia tidak mengetahui pemilik kulit harimau itu dan kami terkendala untuk melakukan pengembangan," lanjutnya.

Ia mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan pengembangan terkait penjualan kulit harimau yang dilakukan oleh tersangka S dan A.

"Saat ini kami masih melakukan pengembangan dan kami masih mengejar pelaku pemburunya," sambungnya.

Menurutnya, tersangka yang ia amankan hanya menerima kulit harimau tersebut dari seorang sopir travel yang mengantarkan ke toko milik tersangka.

"Tersangka hanya menerima barang tersebut dan tidak bertemu dengan orang yang meminta untuk dijualkan," lanjutnya.

Karena tersangka mengaku tidak mengenal pemilik kulit harimau tersebut, pihaknya terkendala untuk melakukan pengembangan. [Halbert Caniago]