Berkaul Adat, Tradisi Masyarakat Muaro Takuang Disumpah di Makam Nenek Moyang untuk Persatuan

Prosesi Berkaul Adat di Nagari Muaro Takuang
Prosesi Berkaul Adat di Nagari Muaro Takuang (Klikpositif/Muhammad Haikal)

SIJUNJUNG, KLIKPOSITIF -- Jelang Ramadan, masyarakat Nagari Muaro Takuang, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung berkumpul di makam nenek moyang mereka di Jorong Kapalo Koto. Di hadapan makam itu semua Ninik Mamak, Tokoh Masyarakat dan seluruh hadirin berdoa dan disumpah untuk selalu bersatu demi kepentingan masyarakat, kemudian saling bermaafan.

Sejak pagi buta, kaum bapak bersiap untuk menyembelih enam ekor kerbau yang sudah disiapkan. Kerbau tersebut merupakan sumbangan dari suku-suku yang ada di Muaro Takuang.

Daging kerbau tersebut, dinanti dagingnya untuk dimasak oleh kaum ibu sembari menyiapkan menu lainnya. Uniknya lagi, setiap suku juga telah disiapkan tempat memasaknya yang tidak jauh dari makam.

Baca Juga

Usai dimasak, daging dan menu lainnya dibawa pulang ibu-ibu ke rumah untuk diletakakkan di tempat yang dinamakan dengan 'Jamba'. Jamba merupakan tempat khas Minangkabau yang berisi makanan-makanan yang dibawa dengan meletakkan di kepalanya dan diarak keliling kampung.

Perayaan itu dikenal masyarakat dengan 'Berkaul Adat'. Menjelang siang, masyarakat mulai berdatangan dengan membawa lemang yang sudah dihias atau Lamang Barambai. Nantinya akan dibagikan kembali ke seluruh masyarakat yang hadir.

Tokoh Masyarakat Nagari Takuang Farizal Datuak Rajo Bagindo mengatakan, ada tiga hal yang mendasari mengapa Berkaul Adat dilaksanakan.

Pertama, lanjut Farizal, bersyukur atas hasil panen padi tahun ini, kemudian usai musim hujan yang kembali mengaliri air ke sawah-sawah untuk bercocok tanam kembali, selanjutnya, telah masuk bulan Sya'ban untuk menyongsong bulan Ramadan.

"Kegiatan bentuk rasa syukur. Dengan harapan hidup aman, tentram dan masyarakat sejahtera hendaknya. Di sini tali silaturahmi diperkuat kembali, tidak ada dendam dan persoalan lagi, semua diselesaikan saat menggelar doa dan shalat di makam nenek moyang kita tadi," katanya di hadapan ratusan para hadirin.

Farizal menambahkan, Berkaul Adat di Nagari Takuang digelar pada setiap memasuki tahun ketiga atau sekali tiga tahun. "Digelar saat bulan Sya'ban telah masuk untuk menyambut bulan suci Ramadan dan datangnya musim hujan. Ninik mamak dan tokoh masyarakat harus bersatu dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat nagari Muaro Takuang yang berjumlah lebih kurang 6.000 jiwa," tambahnya.

Sementara itu, Bupati Sijunjung Yuswir Arifin mengatakan, rasa bangga masih dilestarikannya Berkaul Adat telah menjadi budaya masyarakat di Kabupaten Sijunjung.

"Banyak makna yang terkandung dalam Berkaul Adat ini. Rasa kebersamaan dan sifat gotong royong terlihat dalam prosesnya dari awal hingga akhir. Semoga nilai-nilai ini terus dipertahankan hingga ke anak cucu kita," ungkapnya.

Disini semua tokoh itu di sumpah untuk selalu bersatu demi kepentingan masyarakat banyak, kemudian saling bermaafan. Setiap pimpinan suku akan mewakili anak, cucu dan kemenakannya. "Semua persoalan yang pernah terjadi selama ini akan selesai dan berdamai disini. Tidak ada dendam, dan memulai untuk menjalin rasa persatuan kembali," tuturnya.

(Muhammad Haikal)

Video

Kakek yang Viral Beli Obat dengan Uang Mainan Akan Segera Umrah

YouTube channel KlikPositif.com

Penulis: Rezka Delpiera