Masyarakat Nagari Lancang Sambut Ramadan dengan Tradisi Malamang

Masyarakat Lancang sedang Malamang
Masyarakat Lancang sedang Malamang (Klikpositif/Rehasa)

PADANGPARIAMAN, KLIKPOSITIF -- Malamang sudah menjadi tradisi masyarakat Minangkabau menjelang menjelang bulan puasa. Tradisi yang sudah mulai ditinggalkan ini dilakukan masyarakat Minang dengan berbagai macam niat.

Di Kanagarian Lancang, Kecamatan lll Koto Aur Malintang Selatan, Kabupaten Padang Pariaman tradisi itu masih bertahan.

Selasa 30 April 2019 sekitar pukul 09.00 WIB, ibu-ibu di halaman rumah, duduk bergembira, berhadapan simpuh, saling bercerita sembari memasukan adonan beras ketan putih dan santan ke dalam ruas-ruas bambu.

Baca Juga

Mereka memasak lamang untuk santapan malam ini dalam syukuran dan doa bersama di Surau Cangkeh.

Sementara, pemuda pemudi nagari mengerumuni Mushala Cangkeh. Langkah-langkah riang tertuju ke tempat ibadah tersebut. Mereka membersihkan nushala itu dalam menyambut bulan Ramadan.

Konon, tradisi itu muncul tak lepas dari peran Syekh Burhanuddin, ulama asal Pariaman. Salah satu tokoh agama di nagari tersebut, Datuak Inggih (52 tahun) menceritakan asal usul Malamang. Dia menjelaskan, kala itu Syekh Burhanuddin melakukan perjalanan ke daerah pesisir Minangkabau untuk menyiarkan agama Islam, terutama di daerah Ulakan, Pariaman.

"Menurut Tambo (kisah yang meriwayatkan tentang asal usul dan kejadian masa lalu yang terjadi di Minangkabau), saat itu Syekh Burhanuddin rajin berkunjung ke rumah-rumah penduduk untuk bersilaturrahmi dan menyiarkan agama Islam. Oleh warga, beliau sering disuguhi makanan. Namun, Syekh Burhanuddin menyarankan kepada setiap masyarakat yang dikunjunginya agar mencari bambu, lalu mengalasnya dengan daun pisang muda. Beras ketan putih dan santan lalu dimasukan ke dalamnya, kemudian dipanggang di atas tungku kayu bakar," jelas Datuak Inggih, Selasa 30 April 2019.

Dikatakannya, malamang hari ini dilakukan bergotong royong dengan pembagian tugas pencari bambu sebagai tempat adonan, pencari kayu bakar untuk memanggang, penyiapan pada bahan-bahan untuk membuat lemang, dan lainnya.

"Lebih seratus ruas lamang yang akan kami buat hari ini dan disajikan untuk kudapan dalam acara di Surau Cangkeh, malam ini," kata Datuak.

Dia menjelaskan, malamang sudah menjadi keharusan yang dilakukan saat menyambut hari besar keagamaan.

Sementara itu, Unang Tini (46 tahun) mengatakan, lamang disajikan dengan tapai atau ketan hitam yang sudah difermentasikan.

"Kalau bulan puasa tanpa malamang, ada yang kurang rasanya," ungkap Unang Tini sembari membolak balik lamang.

Dikatakannya lagi, tradisi malamang sendiri sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan sampai sekarang masih dilakukan oleh kebanyakan kampung-kampung di Pariaman.

Perihal malamang, tak hanya warga yang berdomisili di Nagari Lancang saja yang akan mendoa. Puluhan perantau dari Pulau Jawa juga pulang kampung hanya untuk acara tersebut. Pada sisi lain, mereka akan menyumbangkan rezeki yang didapat dari buah perantauan untuk membangun Mushala Cengkeh yang sedang terbengkalai.

(Rehasa)


Unang Tini bersama rekan-rekan saat memasak lamang di Nagari Lancang, Aur Malintang.

Video

Kakek yang Viral Beli Obat dengan Uang Mainan Akan Segera Umrah

YouTube channel KlikPositif.com

Penulis: Rezka Delpiera