Wagub Juga Tolak Diputar Film ‘Kucumbu Tubuh Indahku' di Sumbar

Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit
Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir )

PARIAMAN, KLIKPOSITIF - Setelah Walikota Padang, Mahyeldi Ansharullah menolak pemutaran film ‘Kucumbu Tubuh Indahku' yang digarap oleh sutradara Garin Nugroho diputar dibioskop di Kota Padang dikarenakan konten film itu bertentangan dengan norma agama, sosial dan nilai budaya yang dianut masyarakat yang berlandaskan Adat Basandi Syara'-Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK). 

Kali ini orang nomor dua di Sumbar, Wakil Gubernur Nasrul Abit juga melakukan penolakan terhadap film itu.

baca juga: Wagub Sumbar: WN Irlandia yang Positif COVID-19 Sudah Berpindah-pindah Hotel di Padang

"Pemko Padang telah menolak pemutaran film itu di semua bioskop di Kota Padang. Maka, kita di Provinsi juga menolak, jangan sampai ini diputar di Sumbar," ujar Wagub Nasrul Abit usai melakukan Safari Ramadhan di Masjid Raya Kampung Baru, Kota Pariaman, Jumat malam (10/5).

Dikatakannya, meskipun belum menonton film tersebut, namun dari informasi diterimanya dalam film itu terdapat unsur yang mengandung perilaku menyimpang LGBT .

baca juga: Hari Kedua PSBB di Sumbar, Wakil Gubernur Nasrul Abit Kunjungi Posko Perbatasan Lima Puluh Kota

"Kita di Sumbar ini terkait persoalan LGBT ini sangat sensitif. Maka, jangan buat anak muda kita terpengaruh dengan hal yang dapat memicu terjadi perilaku menyimpang. Oleh karenanya, jangan diputarlah film ini di Sumbar," tututnya.

Saat ditanya, apakah Pemprov akan mengirimkan surat penolakan terkait film itu, Nasrul menyebutkan, surat Walikota Padang sudah cukup. Apalagi, bioskop itu kewenangannya ada di Pemko. 

baca juga: Update COVID-19 4 April di Sumbar, Tidak Ada Penambahan Positif, ODP Bertambah Jadi 2.378, PDP 73

Film ‘Kucumbu Tubuh Indahku' menceritakan tentang penari Lengger Lanang yang berkisah tentang perjalanan Juno dari kecil sampai dewasa. Juno kecil lahir di sebuah desa kecil di daerah Jawa yang terkenal dengan penari Lengger Lanang atau penari laki-laki yang menari tarian perempuan. Kemampuan alami tersebut didapat dari lingkungan desa dan keluarganya yang sering meleburkan tubuh maskulin dan feminin. 

Kekerasan akibat keadaan politik membuatnya hidup sendiri, menjadikan ayah dan ibu dari dirinya sendiri. Juno sering melihat kekerasan di lingkungannya. Kekerasan pertama yang dia lihat ketika Juno pertama kali bergabung dengan grup tari Lengger di desanya. Kekerasan itu pula lah yang menjadikannya harus berpindah dari satu desa ke desa lain.

baca juga: DPRD Minta Pemkab Serius Tangani Kasus LGBT di Kabupaten Solok

Perpindahan yang terus menerus membuatnya bertemu banyak sosok manusia, dari petinju hingga maestro penari Reog. Tapi bukannya Juno tidak pernah mengalami kekerasan. Sepanjang perjalanan, Juno sering mendapat kekerasan sosial sampai kekerasan politik. Sebuah perjalanan tubuh yang membawanya menemukan keindahan tubuhnya. (*) 

Penulis: Joni Abdul Kasir