Mengenang Perjalanan Pulang ke Padang

"Satu hal yang dipelajari Hamdan hari itu, perjalanan memberinya peluang untuk bertemu orang-orang baru, kawan-kawan baru"
Mengenang Perjalanan Pulang ke Padang (Youtube Dayon Channel)

PADANG,KLIKPOSITIF-Tingginya harga tiket pesawat penerbangan domestik yang telah terjadi beberapa bulan terakhir diperkirakan akan mendorong pemudik menggunakan jalur darat. Bagi perantau dari Minangkabau memilih jalur darat berarti, menempuh perjalanan lintas Sumatera, menyeberang dari Merak-Bakauheni dan bus-bus besar yang berjalan siang dan malam.

Hamdan, seorang warga Siteba Padang, berupaya keras mengingat kapan terakhir kali dia menggunakan bus untuk berpergian ke luar Pulau Sumatera. Dahinya mengernyit petanda dia sedang berpikir keras. Lipatan-lipatan kulit wajahnya mencuat jelas, menunjukkan usianya yang tidak lagi muda.

“Wah hampir 26 tahun yang lalu. Sudah lama sekali ternyata,” katanya setengah berteriak di beranda rumah Rabu malam.

Ingatan Hamdan tentang perjalanannya itu mulai muncul satu per satu. Waktu itu sekitar tahun 1993, dia tidak begitu ingat tanggal pastinya. Kala itu Hamdan hendak berangkat ke Jakarta bersama keluarnya. Mereka membeli tiket bus Gumarang Jaya seharga Rp 110 ribu untuk kelas ekonomi. Di Padang mereka menaiki bus di Jalan Khatib Sulaiman. Setelah berkendara siang dan malam mereka akan sampai di Terminal Kampung Melayu di Jakarta.

“Pada masa itu Gumarang Jaya memang angkutan paling umum banyak digunakan. Walaupun sudah ada satu-satu bus lain yang lebih baik. Tapi Gumarang dikenal karena busnya cepat dan rumah makan tempat perhentiannya enak-enak,” kata Hamdan.

Kalau dari Padang, kata Hamdan, bus akan berhenti pertama kali di daerah Gunung Medan, di daerah Sitiung yang sekarang masuk wilayah Dharmasraya. Di sinilah rumah makan Umega yang terkenal akan cita rasa masakannya berada. Menurut Hamdan, kala itu, meski membungkus nasi dan membawa rendang untuk bekal perjalanan, dia memilih makan di rumah makan itu. Penumpang lain juga banyak melakukan hal yang sama.

“Umega adalah tanda terakhir kalau kita masih di daerah Minangkabau. ... Baca halaman selanjutnya