Warga Kampung Maligi Pasbar Sambut Malam 27 Ramadan dengan Tradisi Tagak Tampughuang

"mempercayai dan memaknai filosofi Batagak tampughuang ini dilakukan sebagai lampu penerang pada malam 27 Ramadan"
Tradisi Tagak Tampughuang (mendirikan Tempurung Kelapa) di halaman rumah di pesisir pantai Kampung Maligi yang berada di Kecamatan Sasak Ranah Pasisia, Kabupaten Pasaman Barat-Sumbar (Ist)

PASAMAN BARAT, KLIKPOSITIF - Malam ke-27 bulan Ramadan adalah malam yang dipercaya turunnya lailatul qadar. Karena itu, berbagai cara masyarakat Muslim di berbagai daerah menyambutnya dengan gegap gempita.

Seperti yang dilakukan oleh masyarakat pesisir pantai Kampung Maligi yang berada di Kecamatan Sasak Ranah Pasisia, Kabupaten Pasaman Barat-Sumbar. Mereka menyambutnya dengan cara yang unik, yakni melakukan Tradisi Tagak Tampughuang (mendirikan Tempurung Kelapa) di halaman rumah.

Menurut salah seorang tokoh masyarakat setempat, Surya hampir setiap rumah warga di Kampung Maligi mendirikan tempurung dihalaman rumah mereka. Tradisi Tagak tampughuang yaitu, mendirikan tempurung yang disusun berdiri tegak, dengan menggunakan kayu dan didirikan didepan rumah," katanya kepada KLIKPOSITIF, Jumat (31/5) malam.

Dijelaskan Surya, tradisi ini dilakukan setiap pada malam ke 27 bulan Ramadhan, tempurung yang didirikan didepan rumah akan dibakar setelah berbuka pada malam 27. Tradisi ini sudah ada sejak lama di tengah-tengah masyarakat Maligi. Masyarakat pun tidak tahu pasti sejak kapan bermulanya tradisi tersebut.

"Kami mempercayai dan memaknai filosofi Batagak tampughuang ini dilakukan sebagai lampu penerang pada malam 27 Ramadan. Sebab, pada malam ke 27 merupakan turunnya lailatul qadar.

Tempurung kelapa yang didirikan tersebut dibakar sebagai lampu penerang, dimana dilakukan pada waktu dulu belum ada listrik dan semacamnya sebagai penerang, dengan harapan kampung maligi bisa terang benderang dan dapat turun lailatul qadar di kampung kami," jelasnya.

Untuk diketahui, dahulunya Kampung Maligi merupakan daerah penghasil kelapa dan masyarakat banyak menggunakan ini dalam masakan atau membuat minyak goreng. Namun sekarang tidak sebanyak dahulu dan telah banyak ditumbang untuk berganti fungsi menjadi lahan perkebunan sawit.

Sambungnya, namun seiring berkembangnya zaman, tradisi ini telah mulai tidak ... Baca halaman selanjutnya