"Mambantai Kabau Baradaik" Tradisi Menjelang Hari Raya Idulfitri di Pasaman

"Mambantai Kabau Baradaik (menyembelih kerbau secara adat) sudah menjadi kebiasaan setiap tahun menyambut 1 Syawal 1440 Hijriah atau sehari sebelum hari raya Idulfitri"
Daging kerbau akan dibagikan untuk warga nagari dan perantau di Jorong Tanjung Air, Kenagarian Lubuak Layang, Kecamatan Rao Selatan, Pasaman (Istimewa )

PASAMAN, KLIKPOSITIF - Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) memiliki berbagai tradisi unik namun menyatukan atau sebagai wadah menyambung silaturahmi. Di masing-masing daerah punya tradisi yang berbeda, apalagi di bulan Ramadan ini.

Seperti di Kabupaten Pasaman punya tradisi "Mambantai Kabau Baradaik" dilaksanakan di masing-masing kampung. Mambantai Kabau Baradaik (menyembelih kerbau secara adat) sudah menjadi kebiasaan setiap tahun menyambut 1 Syawal 1440 Hijriah atau sehari sebelum hari raya Idulfitri.

Abdul Rauf, Warga Jorong Tanjung Air, Kenagarian Lubuak Layang, Kecamatan Rao Selatan, Pasaman menjelaskan, tradisi tersebut sebagai wadah menjalin silaturahmi warga nagari bersama perantau. Prosesnya dari awal, mulai dari dana pembelian kerbau dikeroyok secara bersama-sama sampai penyembelihan hingga pembagian daging.

"Jadi, malam lima belas menjelang lebaran, masyarakat Nagari mulai dari penguhulu kampung, datuk - datuk, mamak, keamanan dan sumando berunding untuk mendudukan iuran, hingga besar kerbau yang akan disembelih," jelasnya.

Setelah ada kesepakatan semua unsur di Nagari termasuk perantau yang akan mudik, baru dibeli kerbau yang dirasa cukup dagingnya untuk dibagi satu kampung.

"Kalau di Jorong kami sekitar 110 kepala keluarga (KK), ditambah perantau yang pulang. Daging kita bagi sama banyak. Dalam prosesnya melebur perantau dan orang kampung sambil bercerita pengalaman mereka di rantau maupun yang di kampung," ulasnya.

Disampaikannya, tradisi tersebut berlangsung tiap tahun dan hampir merata di kampung di Pasaman. Disamping menjalin kebersamaan tradisi tersebut juga sebagai pemerataan sosial bagi masyarakat yang tidak mampu.

"Jadi jikalau ada yang tidak sanggup membeli atau beriuran sabagi (1 kilogram) daging, bisa setengah. Pokoknya setiap masyarakat terlibat dan dapat menikmati daging saat hari raya besok," tukasnya. (*)