Klarifikasi Data Kunjungan Objek Wisata Lebaran, Kadispar : Bisa Dipertanggungjawabkan

"Klarifikasi dilakukan dengan mengadakan rapat di Aula Dinas Pariwisata Sumbar, Selasa, 18 Juni 2019 bersama kabupaten dan kota se-Sumbar"
Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Oni Yulfian (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir )

PADANG, KLIKPOSITIF - Dinas Pariwisata Sumatera Barat (Sumbar) bergerak cepat dalam mengklarifikasi validitas data kunjungan ke objek wisata yang menjadi polemik setelah mereka rilis beberapa waktu lalu.

Klarifikasi dilakukan dengan mengadakan rapat di Aula Dinas Pariwisata Sumbar, Selasa, 18 Juni 2019 bersama kabupaten dan kota se-Sumbar. Rapat tersebut sekaligus menjawab pertanyaan pakar pariwisata yang mempertanyakan metode dan standar penghitungan jumlah kunjungan ke objek wisata. 

"Kami serius meluruskan persoalan ini, mereka (Dinas Pariwisata) datang semuanya, ada dari Kepulauan Mentawai hingga Pasaman Barat," ujar Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Oni Yulfian usai melakukan pertemuan.

Dijelaskannya, dari pertemuan dengan kabupaten dan kota tersebut ada 3 metode yang digunakan mereka dalam menghitung data pengunjung saat lebaran. Yakni, dari tiket masuk (destinasi berbayar), data kelompok sadar wisata (pokdarwis) dan estimasi atau perhitungan dari luas lokasi objek wisata yang dijumlahkan dengan jumlah pengunjung melalui pengamatan.

"Telah kami dengarkan dan saksikan pemaparan kawan-kawan daerah, data tersebut benar dan bisa dipertanggungjawabkan," tegasnya.

Data pengunjung dari wisata berbayar atau tiket masuk sebanyak 1,269,672 orang, pokdarwis 128,847 dan estimasi 711,443 orang. "Setiap daerah berbeda - beda jumlah destinasi yang mereka hitung, sehingga perolehan angka juga berbeda," ulasnya.

Oni mengakui, data tersebut bukan wisatawan yang datang akan tetapi kunjungan ke objek wisata. Namun pihaknya juga tengah mengumpulkan data wisatawan melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) dan Kementerian PUPR yang menghitung pergerakan kendaraan saat lebaran.

"Wisatawan memang agak kurang saat libur lebaran, namun perantau bisa dikategorikan wisatawan, sebab mereka tidak menetap lagi di Sumbar," terangnya.

Dilanjutkannya, hari ini telah masuk data Kabupaten Kepulauan ... Baca halaman selanjutnya