Reaktivasi Jalur Kereta Api Padang-Pulau Aie, Warga Berharap Ganti Rugi

"Hanya saja, mereka meminta pemerintah daerah untuk menyiapkan lahan relokasi yang dapat dijadikan kawasan pemukiman rumah yang layak"
Rela Kereta Api Padang-Pulau Aie (Istimewa )

PADANG, KLIKPOSITIF - Pemerintah akan menghidupkan kembali (reaktivasi) jalur kereta 'mati' di jalur Padang-Pulau Aie. Sejumlah warga yang terdampak pasrah bila harus tergusur demi reaktivasi jalur tersebut.

Hanya saja, mereka meminta pemerintah daerah untuk menyiapkan lahan relokasi yang dapat dijadikan kawasan pemukiman rumah yang layak.

"Pasrah saja, PJKA (PT KAI) yang punya ya silahkan saja mau digunakan. Saya tidak punya hak apapun atas tanah yang dijadikan tempat tinggal ini. Paling saya dan keluarga cari tempat lain," jelas Janiar, 66, warga Jalan Dr. Wahidin, Sawahan Timur, Selasa, 25 Juni 2019.

Rencananya jalur kereta 'mati' di Padang itu akan direaktivasi tahun ini. Hingga saat ini Dinas Perhubungan Sumbar, Balai Teknik Perkeretapian Kelas II Wilayah Sumbar, PT. KAI Divre II Sumbar, serta Pemerintah Kota Padang telah melakukan sosialisi kepada masyarakat yang terdampak, Jumat (22/6).

Janiar mengaku sudah mendengar informasi kalau rel kereta api itu akan direaktivasi mulai tahun 2019. Bahkan informasi sudah diterima beberapa kali. Dia berharap kepada pemerintah, bila jalur tersebut akan direaktivasi kembali, dapat memberikan solusi untuk mendapatkan pengganti.

"Kalau harapan saya ke pemerintah mendapat ganti rugi yang layak, terus ada tempat lagi untuk ditinggali, kan masih banyak tanah PJKA mudah-mudahan kami bisa pindah ke sana," harap Janiar.

Dari pantauan di lapangan, jalur kereta api yang tidak terlihat, kini menjadi perkampungan warga, kedai-kedai kecil, sehingga tidak menunjukkan vekas jakur kereta api Padang-Pulau Aie. Permukiman di Dr. Wahidin samping kantor PT. PLN Regional Sumbar merupakan salah satu jalur yang dilewati oleh lintasan kereta api non aktif dari Stasiun Simpang Haru. 

Berdasarkan informasi jalur kereta api Padang-Pulau Aie ditutup pada 1977, karena semakin berkembangnya transportasi darat. Jalur tersebut terpaksa ditutup, terlebih dari sisi kondisi ... Baca halaman selanjutnya