Pengamat: Pilkada 2020 Pessel, Petahana Punya Peluang Tapi Harus Pintar Pilih Wakil

Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni
Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni (Sumber net)

PESSEL , KLIKPOSITIF -- Geliat Pilkada 2020 di Sumatera Barat mulai terasa, tidak hanya Pilkada untuk provinsi, sejumlah kabupaten/kota juga mulai meraba, seperti halnya di Kabupaten Pesisir Selatan.

Pengamatan KLIKPOSITIF , ada sejumlah nama mencuat, namun masih belum ada yang mendeklarasikan diri.

baca juga: Sektor Pariwisata Bakal Dibuka, Jokowi: Strategi Khusus Harus Disiapkan

Terkait hal itu, Direktur Sumatera Barat Leadership Forum Riset (SBLF), Edo Andrefson, menganggap, sejauh ini suhu politik Pilkada 2020 di Kabupaten Pesisir Selatan masih dingin. Meski sejumlah nama sudah mulai mencuat, namun masih menunggu dan melihat kesempatan, malu tapi mau.

Ia menjelaskan, untuk wilayah seluas Pesisir Selatan calon memang harus berpikir lebih matang, apalagi maju sebagai penantang. Karena Pilbup di Pessel incumbent (petahana) masih diatas angin, dan memiliki elektabilitas kuat sebagai petahana.

baca juga: Dirut Baru TVRI Pernah Jadi Kontributor Playboy, Jansen: Apa Tidak Ada yang Lain?

"Menantang incumbent (petahana) di Pesisir Selatan tidak mudah karena wilayahnya yang sangat luas danmemiliki power sebagai kepala daerah. Dan incumbent dari amati kami dan kawan diatas angin," kata Edo Andrefson.

Meski, incumbent kuat. Namun, tetap memiliki beberapa catatan yang dapat jadi rujukan untuk pengaruhi kekuatan incumbentnya. Di antaranya, kekalahan telak Jokowi di Pesisir Selatan, yang mana incumbent terlalu terdepan.

baca juga: Jokowi: Pandemi Corona Ubah Tren Pariwisata Dunia

"Penantang harus betul-betul memiliki hitungan yang tepat. Incumbent (Bupati Pessel ) sebagai orang yang paling vokal mengkampanyekan Jokowi, ternyata tak berefek," ujarnya.

Katanya, berkaca dari situasi Pilpres incumbent disarankan agar berhati-hati memilih pendampingnya sebagai wakil bupati. Karena Pilpres dinilai akan berpengaruh pada Pilkada 2020 mendatang.

baca juga: BUMN Nyatakan Siap Jalankan New Normal

"Wakil yang tidak dekat dengan militan 02 akan berisiko bagi incumbent. Jadi hati-hati, dan incumbent harus bisa mencatat itu," ungkapnya.

Sedangkan, untum penantang sendiri lanjut Edo Andrefson disarankan agar menghitung ulang basis, menyiapkan partai politik dan logistik yang cukup. Jadi harus memiliki kesiapan yang matang dan mampu membaca celah-celah untuk bisa kuat.

"Hitung-hitungan penantang harus tepat. Barangkali inilah alasan kenapa mereka masih malu-malu kucing walaupun sebagian telah memasang gambar," hematmya.

Sementara itu, Pengamat Politik dari Universitas Andalas, lham Aldelano Azre juga mengatakan hal yang searah, di mana peluang penantang baru untuk bertarung harus terstruktur. Terlebih ingin berpeluang untuk mengalahkanya.

"Incumbent tentu saja punya peluang lebih besar penguasaan jaringan," ulasnya.

Selain memiliki langkah terstruktur, penantang harus bisa mellihat tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan incumbent, dan melihat kinerja dan elektabilitas.

"Jika jarak tingkat kepuasan tehadap kinerja incumbent dengan elektabilitas incumbentnya signifikan. Tentu makin besar peluang pendatang baru untuk jungkalkan incumbent," tutupnya. (Kiki Julnasri)

Penulis: Eko Fajri