Jumlah Jurnal Ilmiah Terakreditasi Nasaional Minim, Kemenristekdikti-PNP Gelar Workshop

()

PADANG, KLIKPOSITIF - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) terus mendorong perguruan tinggi untuk meningkatkan jumlah jurnal ilmiah yang diakreditasi, karena hingga 2019 ini, Kemenristekdikti mencatat bahwa jumlah jurnal ilmiah yang terakteriditasi nasional sebanyak 2.700 jurnal ilmiah.

"Saat ini jurnal yang terakteriditasi nasional masih kurang sekitar 6.000 lagi. Kemenristekdikti punya program percepatan akreditasi dengan menyisir langsung 50 lokasi di Indonesia di 2019 ini," kata Kepala Subdiroktat Fasilititasi Jurnal Ilmiah Kemenristekdikti Dr Lukman saat workshop dan pendampingan jurnal ilmiah di Padang, Jumat, 12 Juli 2019.

Workshop dan pendampingan jurnal ilmiah yang ditaja Kemenristekdikti itu, bekerjasama dengan Politeknik Negeri Padang (PNP) dan Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Ahli Informatika Indonesia (DPW IAII) Sumbar ini, dan workshop itu diikuti oleh 42 orang peserta yang berasal dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Insonesia.

Baca Juga

Lebih lanjut Lukman menyampaikan bahwa dengan adanya gerakan percepatan ini, maka diharapkan ada 40 jurnal nasional terakdetasi dari satu lokasi, apalagi dengan adanya regulasi berupa Permenriktekdiksi Nomor 50 tahun 2018 yang mengharuskan setiap mahasiswa magister dan dokter jika ingin lulus harus publikasi di jurnal dan internasional yang berprestasi.

"Target kita sampai akhir tahun setidaknya 7200 jurnal terakditasi. Jika tidak ada jurnalnya yang terakreditasi nasional, maka akan menjadi boomerang, karena mahasiswa tidak akan bisa lulus program magister dan dokter. Sebab Permenristekdikti ini mulai diterapkan Oktober 2020 mendatang," jelasnya.

Workshop dan pendampingan ilmiah ini digelar, kata Lukman melanjutkan, bertujuan untuk mendorong peningkatan jurnal terakreditasi. Pada workshop ini, para peserta di bidang informatika yang jurnalnya belum terakreditasi diundang. Para peserta diberikan pendampingan sehingga dapat menuntaskan persoalan yang ada.

“Sebelumnya sulit sekali untuk lulus. Sebab untuk peringkat 2 nilainya minimal 70. Sekarang dengan diberikan kesempatan untuk urutan 1-6, sehingga yang nilai jurnalnya 30 sudah bisa terakreditasi. Meskipun dapat nilai kelulusannya kecil, tapi ini sudah memenuhi syarat lulus. Sekarang minimal kuantitas dari jurnal yang terakreditasi, bukan pada kualitasnya,” terangnya.

Menurutnya, persoalan minimnya jurnal terakteditasi disebabkan jurnal masih dianggap sebelah mata. "Dosen masih ada yang menganggap jurnal ilmiah sebagai pekerjaan sampingan dan bukan utama. Lalu dari pimpinan perguruan tinggi juga kurang perhatian, baik dari segi hibah, insentif, fasilitas dan lain-lain," imbuhnya.

Ia menambahkan, jika sebelumnya proses akreditasi memakan waktu 2 bulan dan sulit mengurusnya ke Jakarta, sekarang dengan pendampingan langsung dari 4 orang assessor selama 3 hari, diharapkan persoalan yang selama ini terjadi dapat teratasi, supaya para peserta workshop sudah bisa mempersiapkan jurnalnya untuk diakreditasi.

"Kami di Kemenristekdikti berharap melalui workshop ini, para peserta dapat sukses menghasilkan jurnal terakreditasi. Sebelum bidang informatika, sebelumnya kami juga telah melakukan workshop pendampingan jurnal ilmiah bidang bahasa. Kemudian setelah ini, akan dilakukan untuk teknik industry dan keperawatan,” paparnya.

Sementara itu, Wakil Direktur PNP, Anton ST.MT menyebutkan momen ini penting bagi PNP dalam percepatan jurnal terakreditasi nasional dari tenaga pendidik yang ada. Keseriusan dari Kemenristekdikti membantu perguruan tinggi diharapkan dapat menghasilkan banyak jurnal.

“Kami PNP berusaha mendorong dosen atau tenaga pendidik untuk membuat jurnal ilmiah. Insentif juga diberikan, sebab ini akan menjadi barometer bagi PNP untuk semakin dikenal luas. PNP juga siap untuk dijadikan tuan rumah dalam penyelenggaraan kegiatan ini diselanjutnya, khususnya untuk Sumbar,” pungkasnya. (*)

Video

Sumbar Kesulitan Solar

YouTube channel KlikPositif.com

Penulis: Riki S