Kasus Dokter Gigi Romi Ternyata Bukan yang Pertama di Indonesia

"Ada dua kasus sebelumnya yang sampai ke ranah hukum dan didampingi oleh Lembaga Adfokasi Perlindungan Penyandang Disabilitas Indonesia."
Dokter gigi Romi bersama Ketua Lembaga Advokasi perlindungan penyandang disabilitas (Halbert/Klikpositif)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Kasus diskriminasi yang dialami oleh Dokter Romi Sofpa Ismael ternyata bukan kasus perdana di Indonesia.

Ada dua kasus sebelumnya yang sampai ke ranah hukum dan didampingi oleh Lembaga Advokasi Perlindungan Penyandang Disabilitas Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Epi Sebayang saat ditemui awak media di Padang pada Minggu 28 Juli 2019.

"Tahun 2005 kami juga pernah menangani kasus yang hampir sama dan kami laporkan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) di daerah Surabaya," ujarnya.

Saat itu, pihaknya memenangkan perkara tersebut dan penyandang disabilitas yang tidak disebutkan namanya itu mendapatkan haknya sebagai ASN.

"Kasus kedua yaitu teman-teman disabilitas yang mendapatkan pelarangan oleh maskapai Etihad," ujarnya.

Dalam kasus itu pihaknya menggugat maskapai tersebut karena adanya kebijakam maskapai bahwa disabilitas jika menjadi penumpang di pesawatnya harus memiliki pendamping.

"Posisinya saat itu Dwi Ariyani sudah terbiasa naik pesawat tanpa adanya pendamping dan tidak ada aturan di negara ini untuk mendiskriminasikan penyandang disabilitas, itulah alasan kami menggugat pihak Etihad," lanjutnya.

Apa yang dialami oleh Dokter Gigi Romi juga bisa memakai aturan yang sama seperti kasus sebelumnya.

"Untuk kasus Dokter Romi ini saya rasa lebih sederhana dan apa yang terjadi di sini jelas ada diskriminasinya," lanjutnya.

Ia bersama dengan Kementrian terkait akan membantu mengembalikan hak dari Dokter Gigi Romi dalam sidang koordinasi yang akan dilaksanakan besok.

[Halbert Caniago]