Underpass dan Fly Over Solusi Meminimalisir Kecelakaan Kereta Api di Padang

Perlintasan kereta api di Tabing, Kota Padang
Perlintasan kereta api di Tabing, Kota Padang (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir )

PADANG, KLIKPOSITIF - Persoalan kecelakaan lalu lintas yang disebabkan di perlintasan kereta api sebidang di Sumbar khususnya di Kota Padang terus mengeliding bagaikan bola salju.

Apalagi sejak 2016-2019 tercatat jumlah korban kecelakaan yang meninggal dunia diperlintasan akibat kereta api sebanyak 24 korban, kemudian sbanyak 39 orang mengalami luka-luka.

baca juga: PT KAI Divre II Sumbar Bagikan Ratusan Sembako Gratis untuk Masyarakat Terdampak COVID-19

Terkait dengan persoalan tersebut, Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit mengatakan, pihaknya berencana membangun underpass atau fly over di perlintasan rel kereta api guna meminimalisir angka kecelakaan di tempat itu. Dia mengungkapkan saat ini yang telah berjalan progress di daerah Duku, dan telah ada Detail Enginering Design (DED).

"Ada beberapa jalur kita (underpass, red) menyebrangi kereta api , contohnya Duku. InsyaAllah sekarang sudah selesai DED, nanti tahun depan kita mulai bangun. Kemudian juga ada beberapa perlintasan yang dipetakan agar tidak terjadi kepadatan lalu lintas pada jam-jam sibuk dan guna menghindari kecelakaan," kata Nasrul Abit, Rabu, 7 Agustus 2019.

baca juga: Mulai Besok, Kereta Api Divre II Sumbar Hanya Berlakukan Perjalanan untuk Angkutan Barang

Nasrul menyebutkan, sat ini jumlah perlintasan sebidang liar yang memotong jalur kereta api di Sumbar mencapai 531 titik. Sementara yang ilegal dan masih digunakan masyarakat sebanyak 176, namun yang dijaga hanya 45. Pada titik itulah sering terjadi kecelakaan yang melibatkan kereta api tertemper dengan kendaraan masyarakat, khusunya di jalur Kota Padang-Pariaman.

Melihat kondisi itu, Nasrul Abit juga mengusulkan, agar pelajar diberi piket untuk menjaga palang pintu perlintasan kereta api . Sebab jumlah perlintasan sebidang cukup banyak. Bahkan sebagian besar tidak dijaga. Sebab tak mungkin mengandalakan personel kereta api menjaga seluruhnya. Ini butuh bantuan masyarakat.

baca juga: Dampak Pandemi COVID-19, PT KAI Sumbar Prediksi Kerugian Paling Tidak Rp1,3 Triliun

"Terlebih lagi reaktivasi jalur kereta api telah dilakukan bertahap, seperti dari Pulau Air menuju Stasiun Simpang Haru, Padang," ungkap Nasrul Abit pada ratusan siswa yang mengikuti Sosialisasi Keselamatan Berlalu Lintas di Perlintasan Sebidang Kereta Api .

Menurut Nasrul Abit, pelajar sebagai pelopor keselamatan berlalu lintas harus diikutsertakan untuk menjaga. Akan tetapi tidak di semua palang pintu, khusus yang akses menuju sekolahnya melewati atau dekat dengan perlintasan sebidang.

baca juga: Mulai Besok Hingga 2 Bulan Kedepan, Frekuensi Perjalanan KA Sibinuang Bakal Dikurangi

"Oleh karena itu kami minta PT KAI membagikan jadwal perjalanan kereta api ke sekolah dan masyarakat supaya jadwal piket bisa disusun pelajar dan pemuda," ucap Nasrul Abit.

Tak jauh berbeda dengan Nasrul Abit, Kepala Dinas Perhubungan Sumbar, Heri Nofiardi pun mengatakan terhadap perlintasan sebidang pemerintah akan tegas melakukan penutupan secara bertahap, diberi pintu perlintasan maupun dibangun underpass atau fly over. Selain itu, juga memasang rambu dan marka jalan dengan priorotas rawan kecelakaan.

"Perpotongan sebidang antara jalur kereta api dengan jalan, pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api . Perlintasan sebidang liar, kita akan tegas melakukan penutupan secara bertahap," kata Heri.

Menurut Heri, pengembangkan wilayah dan pertumbuhan pemukiman yang tidak disertai dengan komitmen untuk melakukan pengaturan dan pengawasan dari semua pihak bisa menyebabkan tumbuhnya perlintasan liar (illegal). Apalagi, dengan meningkatkan pertumbuhan kendaraan sehingga perlu peningkatan status perlintasan dari tidak dijaga menjadi perlintasan yang dijaga.

"Karena pertumbuhan perlintasan liar terus bertambah, banyak rumah dan pertokoan memiliki akses atau jalan sendiri memotong rel kereta api . Ini banyak terjadi dari Simpang Haru di kota Padang sampai kota Pariaman," ujar Heri.

Mirisnya, sebut Heri, pagar pembatasan antara jalan rel kereta apu dengan jalan atau pemukiman yang selama ini telah dipasang, bahkan banyak yang telah dicabut oleh pemilik bangunan dan membuka jalan langsung. Menurut dia, masih seringnya terjadi kecelakaan di perlintasan sebidang karena rendahnya disiplin masyarakat dalam berlalu lintas, serta membuka perlintas liar.

"Sekarang masih banyak perlintasan yang belum dilengkapi dengan fasikias keselamatan dan petugas penjaga pintu perlintasan. Kita berharap masyarakat yang berada disekitar jalur kereta api dengan kesadaran sendiri menutup atau pada saat membangun rumah tidak membuka akses langsung dari rumah yang melintasi jalur kereta api ," ucap Heri. (*)

Penulis: Joni Abdul Kasir