Lucu! Marching Band di Pasbar Ini Personelnya Emak-emak

Pawai Alegoris Marching Band yang dilakoni oleh kaum ibu dan bapak
Pawai Alegoris Marching Band yang dilakoni oleh kaum ibu dan bapak (Ist)

PASAMAN BARAT, KLIKPOSITIF -- Berbagai cara yang dilakukan dalam meriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 di setiap daerah. Mulai dari pawai hingga berbagai perlombaan disuguhkan.

Namun di Nagari Kajai, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat ( Pasbar ) kegiatan pawai diderah itu tergolong unik dan Kocak. Pawai yang biasanya melibatkan usia 5 hingga 18 tahun dengan menggunakan atribut mulai pakaian pejuang, hingga pakaian adat tradisional dan lainnya.

baca juga: Masyarakat di Air Haji Pasbar Tutup Jalan Masuk Menuju PT Agrowiratama, Ada Apa?

Akan tetapi di Nagari Kajai pawai dilakukan oleh para kaum ibu-ibu dan bapak-bapak yang usianya sudah paroh baya. Mereka memakai pakaian mempelai pengantin adat Minangkabau (marapulai-anak daro red).

Nagari Kajai ini memang berbeda dari Nagari yang ada di Pasbar . Kenapa demikian, 17 Agustus ini adalah Hari raya yang ketiga bagi penduduk disini setelah Idul Fitri dan idul adha," sebut Wali Nagari Kajai Muryanto.

baca juga: Gelar Pilkada di Tengah COVID-19, KPU Pasbar Butuh Tambah Anggaran

Dari dahulunya dilakukan semeriah mungkin. Untuk di Pasbar , hanya Nagari Kajai yang memiliki Marching Band unik. "Ini lah cara masyarakat Nagari Kajai dalam memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia.

Berbagai penampilan kocak disuguhkan dalam pawai alegoris ini. "Mayoret marcing bandnya saja emak-emak yang sudah paroh baya dengan pakaian dan sepatu bot ke kebun. Sedangkan personilnya menggunakan alat drum band yang dibuat dari kaleng, ember dan botol bekas.

baca juga: Perpanjang PSBB, Pemkab Pasbar Persiapkan Hal Ini

Tentu setiap orang yang melihat akan menimbulkan gelak tawa dan mengocok perut. Selain itu, pawai alegoris ini diiringi dengan lantunan musik tradisional yakni ronggeng.

Namun ada hal yang kocak dan menarik dari personil kesenian ronggeng ini. Para personil nya terdiri dari kaum bapak-bapak dengan menggunakan pakaian anak daro serta pakaian wanita lainnya," terang Mulyanto.

baca juga: PSBB Tahap III Diberlakukan, Pemkab Pasbar Mulai Sosialisasikan New Normal

Sementara salah seorang mayoret dari Kampung Pinariman Lakuak Nagari Kajai, Asmira (55) mengatakan, pawai ini sengaja kami selenggarakan sebagai tanda kebesaran hati dan antusias memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

"Kalau dahulunya para pejuang berjuang dengan darah dan nyawa mereka. Maka setelah merdeka sepantasnya lah kita sebagai penerus ikut andil memperingati jasa para pahlawan," kata Asmira.

Ditempat yang sama, Mayoret asal Kampung Padang, Wakidi (49) rela memakai pakaian wanita layaknya seorang anak gadis melenggokkan pinggulnya sambil memainkan tongkat mayoret nya.

"Ini sebagai tanda syukur kami kepada para pejuang yang rela mati demi kemerdekaan negara Indonesia," terang bapak empat anak itu. 

[Irfan Pasaribu]



Penulis: Rezka Delpiera