Perkiraan BMKG Musim Panas di Sumbar akan Berlangsung Lama

Matahari terlihat terik pagi ini (23/8) di Kota Padang
Matahari terlihat terik pagi ini (23/8) di Kota Padang (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir )

PADANG, KLIKPOSITIF -Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Padangpriaman memproduksi panas di wilayah Sumatera Barat (Sumbar) akan berlangsung lama, bahkan hingga November. 

Musim panas berlangsung lama akan memicu kemunculan kabut asap yang menyelimuti provinsi itu.

Kepala Stasiun Klimatologi Padang Pariaman, Heron Tarigan mengatakan, musim kemarau tahun ini diperkirakan akan lebih lama dan panjang. Hal tersebut terjadi karena adanya keterlambatan pergeseran wilayah Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ) ke Arah Selatan dari normalnya.

Baca Juga

Menurut Heron Tarigan, ITCZ memiliki peran penting bagi kondisi dinamis di wilayah tropis yang merupakan daerah pertumbuhan awan. Pada Saat ini wilayah Indonesia sedang dipengaruhi sirkulasi monsun Australia dan terdapat fenomena elnino lemah sehingga kondisi di wilayah indonesia cukup kering.

"Karena suhu muka laut Indonesia masih relatif dingin (anomali suhu air laut/SST di benua maritim indonesia negatif). Dimemprediksi pada kisaran bulan November baru akan kembali normal," ujarnya, Jumat, 23 Agustus 2019.

Kemudian, kata Heron Tarigan, jika dilihat dari fakta yang ada di sumbar khusus untuk bagian timur yaitu daerah Zona Musim (ZOM), curah hujan masih di bawah normal. Dia melihat, jika wilayah Sumbar tampak berkabut, hal itu diduga terjadi karena pengaruh asap yang terjadi di Jambi.

"Musim hujan yang terlambat datang juga berpengaruh pada kabut karena jika ada hujan, udara yang berkabut akan lebih bersih karena terkena hujan," kata Heron Tarigan.

Terkait titik api di Sumbar, Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun BIM, Yudha Nugraha mengatakan, dari data LAPAN sebanyak 20 titik api terpantau di wilayah Sumatera dengan tingkat 81 hingga 100 persen. Kondisi udara yang mengganggu jarak pandang di Padang dan di Sumbar secara umum tidak hanya dipengaruhi oleh titik api.  

"Pemicu lainnya juga akibat aktivitas pembakaran dalam skala kecil di lingkungan penduduk di antaranya pembakaran jerami sisa hasil panen, polusi udara kendaraan bermotor, asap pabrik, maupun debu di atmosfer karena kondisi cuaca yang kering dan panas," kata Yudha.

Selain itu berdasarkan perkiraan BMKG, hingga dua hari kedepan cuaca pada pagi hari cuaca cerah berawan dan siang hingga sore masih berawan. (*)

Video

Kakek yang Viral Beli Obat dengan Uang Mainan Akan Segera Umrah

YouTube channel KlikPositif.com

Penulis: Joni Abdul Kasir