Sumbar Butuh Tambahan Dokter Spesialis dan 1.080 Penata Anestesi

Ilustrasi/KLIKPOSITIF
Ilustrasi/KLIKPOSITIF (Istimewa )

PADANG, KLIKPOSITIF - Rumah sakit di Sumatera Barat (Sumbar) masih membutuhkan dokter anestesi (pembiusan). Saat ini tercatat hanya 35 dokter anestesi dan 135 penata anestesi dari 75 rumah sakit yang tersebar di kabupaten dan kota.

Wakil Gubernur Sumbar, Narul Abit, mengatakan, Seharusnya setiap rumah sakit minimal memiliki satu perawat anestesi, dan minimal empat penata anestesi.

"Dari kalkulasi tersebut maka Sumbar membutuhkan 1.080 Penata Anestesi," ujarnya, Minggu, 25 Agustus 2019.

Baca Juga

Terkait kekurangan itu , Nasrul menyebutkan, bisa disiasati dengan rencana Universitas Baiturrahmah membuka jurusan Anestesi, infromasinya Universitas Negeri Padang juga akan membuka. Sehingga ini peluang bagi perguruan tinggi, dan kesempatan untuk memenuhi kebutuhan tenaga Penata Anestesi ke depan.

"Disamping itu mereka juga punya asosiasi bisa membantu kita dalam pelaksanaan tugas. Sesuai kewenangan pemerintah daerah masing-masing, rumah sakit tipe B tanggungjawab pemerintah provinsi, sedangkan tipe C tanggungjawab Pemda kota dan kabupaten, untuk memberikan pelayanan yang lebih baik," katanya.

Kendati demikian, untuk membantu program kerja Penata Anestesi ini, pemerintah daerah tetap harus bekerja sesuai kewenangan daerah. Sesuai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014. Dengan harapan ada pembenahan sektor kesehatan di daerah masing-masing sehingga tenaga anestesi dapat dipenuhi.

"Sekarang ini sektor kesehatan sudah diutamakan, 20 persen sudah dimasukkan RPJM 2020-2024, demi mencapai SDM unggul dan untuk Indonesia maju," ujar Nasrul Abit.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Oscar Primadi mengharapkan, pemerintah daerah dan organisasi Ikatan Penata Anestesi Indonesia(IPAI) mampu merangkul segala komponen Penata Keanestesian yang ada.

Kemudian, upaya itu juga bisa dilakukan dengan mengadakan pelatihan, workshop, dan memberdayakan SDM yang memiliki kompetensi.

"Tentunya saling mendukung dan memberikan penguatan dalam pelayanan kesehatan yang lebih baik. Kalau di Kota Padang sepertinya tidak kekurangan, tapi di daerah-daerah memang kekurangan. Tapi kita berharap, SDM saling mengharmoniskan. Semua komponen betul-betul penata keanestesian yang baik," kata Oscar Primadi.

Dengan harapan itu, menurut Oscar Primadi, untuk mendukung kesehatan di Indonesia, Penata Anestesi tidak hanya pembenahan di hilir. Upaya itu juga dengan memberikan pelayanan dan mutu yang berkualitas kepada masyarakat.

Selain itu, IPAI juga menata regulasi segala aturan dan acuan. Pembinaan organisasi juga lebih solid. Bukan hanya tentang pembiusan saja, tapi juga harus mampu menjadi promotor dan agent of change mengubah perilaku masyarakat.

"Penataan Anestesi harus meningkatkan kualitas dan profesionalisme, serta mengubah perilaku masyarakat hidup ke arah lebih sehat," pesan Oscar Primadi.

Sementara, Ketua DPP IPAI, Dorce Tandung menyampaikan, sampai saat ini beberapa regulasi yang dibuat Kemenkes RI sudah mengkoomodir kebutuhan anggota IPAI. Namun terkait kinerja Penata Anestesi belum ada keseragaman di setiap daerah. Secara berkala setiap anggota wajib hukumnya mencapai lisensi peningkatan mutu.

Terakhir, Dorce juga berharap ada Perda yang menguatkan program kerja Penata Anestesi, termasuk di daerah Sumbar. Apalagi, berbagai daerah juga perlu dilakukan untuk Penataan Anestesi. Melalui peraturan yang diterbitkan belum menyeluruh soal pengembangan keprofesiannya.

"Saya harus mengadvokasi, agar ke depan mendapat dukungan anggaran untuk pengembangan keprofesian, seperti pelatihan, seminar, workshop, untuk meningkatkan mutu penata anestesi," pungkasnya. (*)

Video

Kakek yang Viral Beli Obat dengan Uang Mainan Akan Segera Umrah

YouTube channel KlikPositif.com

Penulis: Joni Abdul Kasir