Bakawue, Tradisi Potong Kerbau Berusia 2,5 Abad di Kabupaten Solok

"Tradisi Kaua merupakan sebuah bentuk 'ritual' yang dilakukan masyarakat Sianggai-Anggai sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas panen mereka yang melimpah"
Wakil Bupati Solok Yulfadri Nurdin mengikuti tradisi Bakawue di jorong Sianggai-Anggai, Nagari Sariek Alahan Tigo Kabupaten Solok. (istimewa)

SOLOK, KLIKPOSITIF -- Tidak hanya terkenal dengan keindahan alamnya, Kabupaten Solok pun kaya dengan seni dan budaya yang masih begitu kental dengan keseharian masyarakat. Salah satunya adalah tradisi Kaua atau Bakawue (Kaul) di Jorong Sianggai-anggai, Nagari Sariek Alahan Tigo, Kecamatan Hiliran Gumanti.

Tradisi ini telah berusia lebih kurang 250 tahun atau 2,5 abad. Tradisi Kaua merupakan sebuah bentuk 'ritual' yang dilakukan masyarakat Sianggai-Anggai sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas panen mereka yang melimpah.

Sekaligus, berharap lahan pertanian yang digarap senantiasa membawa rezki dan keberkahan dalam kehidupan. Tradisi Kaua dilakukan sebelum turun ke sawah (musim tanam). Tradisi ini diwarnai dengan pemotongan kerbau dan terbilang unik.

Sebab tidak dilakukan setiap tahunnya, hanya 1 kali dalam 3 tahun dan dilakukan pada setiap hari Jumat pada bulan haji atau Zulhijjah. Konon katanya, tradisi Bakawue ada lantaran daerah Sianggai-Anggai pernah dilanda paceklik selama tiga tahun lantaran kekeringan dan serangan hama.

Sejak saat itulah, tradisi Bakawue terus dipertahankan sampai saat ini. Jum'at (23/8) kemarin, merupakan alek Kaua yang ke-84 kali dilaksanakan di daerah tersebut. Artinya, tradisi ini sudah ada sejak 252 tahun silam dan sudah digelar turun-temurun.

Menurut Wakil Bupati Solok, Yulfadri Nurdin, tradisi Kaua yang telah terjaga dari generasi ke generasi di Sianggai-anggai merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. "Budaya dan tradisi seperti ini harus kita pertahankan dan diwariskan pada keturunan atau generasi penerus sehingga tetap lestari," sebut Yulfadri Nurdin.

Keunikan tradisi yang sudah berusia ratusan tahun perlu dijadikan sebuah wisata budaya dan dipromosikan ke masyarakat luar. "Tradisi-tradisi semacam ini hendaknya bisa dijadikan kalender wisata di Kabupaten Solok, apalagi waktu pelaksanaanya sudah rutin setiap tiga tahun sekali," sebut ... Baca halaman selanjutnya