Harga Sawit di Padang Pariaman Tembus Rp800 Per Kilogram, Tertinggi Tahun ini

sawit
sawit (KLIKPOSITIF/ Rahesa)

PADANG PARIAMAN , KLIKPOSITIF -- Harga sawit di wilayah Padang Pariaman memasuki akhir bulan ini terpantau naik, satu kilogram sawit seharga Rp800. Harga tersebut merupakan harga tertinggi sawit dalam tahun ini.

Petani sawit di tiga kawasan Padang Pariaman , seperti Sungai Limau, Sungai Geringging dan Aur Melintang menyambut riang kenaikan harga sawit , meski selisih kenaikan harga cuma Rp300 rupiah.

baca juga: Tidak Lagi Digratiskan, Hotel, Restoran dan Tempat Hiburan di Kota Padang Mulai Bayar Pajak

Dihimpun dari beberapa petani, pada awal Januari hingga Maret 2019, harga sawit per kilogram hanya Rp400. April sampai Juli 2019 harga naik Rp 100 menjadi Rp 500 per kilogram. Namun pada pertengahan Agustus 2019 hingga kini harga merangkak senilai Rp300 menjadi Rp800 per kilogram.

Salah satu petani sawit bernama Ajo Sawir (50) warga Aur Malintang, Kamis 29 Agustus 2019 pada KLIKPOSITIF mengatakan, harga sawit Rp800 per kilogram itu semenjak tanggal 20 Agustus tahun ini.

baca juga: Jual Beli Jumat, Harga Emas Naik Tipis

"Iya, saya senang harga perkilo sawit sudah naik. Sekarang kami bisa menjual pada pengepul delapan ratus rupiah," kata Ajo Sawir, Kamis, 29 Agustus 2019.

Lebih lanjut dikatakannya, meskipun harga sudah naik, namun itu bukan merupakan patokan harga yang dapat menguntungkan.

baca juga: Rupiah Terus Bergerak Menguat di Akhir Pekan

"Patokan harga layak untuk sawit seharusnya minimal Rp1000 per kilogram. Segitu baru bisa dikatakan untung bagi kami, sebab upah panen dan pupuk sawit nilainya tinggi, " jelas dia.

Untuk kawasan Aur Malintang merupakan kawasan terluas tanaman sawit di Padang Pariaman . Seluruh tanaman sawit mencapai seluas 453 Ha. Ajo Sawir memiliki lahan seluas 4 hektar.

baca juga: Pemerintah: Tarif Listrik Pelanggan Non Subsidi Hingga September Tak Naik

Tidak hanya Ajo Sawir yang angkat bicara tentang kenaikan harga sawit . Salah satu petani sawit di kawasan Sungai Geringging juga mengatakan perihal yang sama.

Danuri (47) warga Sungai Geringging yang mempunyai luas tanaman sawit sekitar 3 hektar mengatakan, kenaikan harga sawit mencapai Rp800 per kilogram merupakan harga tertinggi tahun ini.

"Sebelumnya tak pernah mencapai Rp 800, harga lebih sering pada angka Rp500 per kilogram," kata Danuri di rumahnya.

Dia menuturkan, dengan adanya kenaikan harga, jerih payah dalam mengelola sawit bisa terobati.

"Ya harga segini bisalah untuk melepas penat. Punya kebun sawit itu tak semudah merawatnya dibandingkan kebun dengan tanaman lainnya. Sawit tanaman manja, harus dirawat dan dipupuk," jelas dia.

Senada dengan petani lainnya, Danuri mengungkap bahwa harga standar sawit yang bisa menguntungkan petani minimal Rp 1000 per kilogram.

"Saya harap Rp1000 lah per kilogram. Baru itu bikin lega. Biaya pengeluaran untuk sawit besar, " sebut dia.

Menyoal tentang harga tersebut, salah satu pengepul atau toke sawit di kawasan Sungai Limau bernama Angku Sidi (60) mengatakan, di tingkat pengepul harga sawit dibeli ke petani sebesar Rp800 per kilo.

"Iya, harga sudah naik semenjak pertengahan bulan ini. Namun untuk sekarang, di tahun ini kami cukup susah mencari sawit dari petani, " kata Angku Sidi.

Menurutnya ketersedian sawit dari petani dalam tahun ini berkurang, lantaran beberapa petani sudah mulai beralih pada tanaman jagung.

"Ya tak sebanyak tahun sebelumnya, sekarang beberapa petani sudah ada yang beralih pada tanaman jagung sebab harga sawit sering anjlok, " akui Angku Sidi. (Rehasa)

Penulis: Eko Fajri