Menteri Jonan akan Pangkas Subsidi Energi

"Pemerintah lebih memilih memangkas subsidi energi untuk dialihkan ke belanja yang lebih produktif dan pro rakyat"
Menteri ESDM Ignasius Jonan (esdm.go.id)

KLIKPOSITIF -- Prinsip ketersediaan dan keterjangkauan energi oleh masyarakat menjadi inti dari kebijakan dalam pengelolaan sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM), demi mendorong terwujudnya kedaulatan energi di dalam negeri. Bahwa dalam mengelola sektor ESDM, pemerintah berupaya agar energi tersedia secara merata dan dengan harga yang terjangkau.

"Paling penting dari kedaulatan energi itu ada dua, yakni ketersediaan energi itu sendiri dan keterjangkauan dari segi harga," kata Menteri ESDM Ignasius Jonan pada saat mengisi kuliah umum di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Jumat (30/8), yang dikutip dari esdm.go.id.

Di jaman yang sangat global sekarang ini hampir tidak ada negara yang mampu melakukan segala kegiatan hidupnya secara mandiri. "Semua negara itu saling ketergantungannya (di sektor energi) besar. Kedaulatan energi itu yang terpenting adalah membuat daya saing bangsa ini menjadi lebih baik," ucap Jonan.

Dalam menyediakan energi dengan harga terjangkau, pemerintah memberikan subsidi energi secara tepat sasaran untuk menjaga daya beli masyarakat kurang mampu.

Tercatat sekitar Rp. 1.200 triliun dana di APBN digunakan untuk subsidi energi selama periode 2011 hingga 2014, namun alokasinya dibuat makin tepat sasaran dalam 4 tahun terakhir, agar tersedia alokasi pembiayaan untuk sektor produktif lainnya.

"Subsidi, yang selalu orang ramai bicara ini. Dibandingkan periode sebelumnya, sekarang empat tahun terakhir (2015-2018) subsidi sektor energi dipangkas menjadi hanya Rp 477 triliun. Ini kurang lebih hanya sepertiga dari yang sebelumnya. Agar lebih tepat sasaran," tutur Jonan.

Jonan mengatakan bahwa pemerintah terus berkomitmen agar subsidi energi semakin efisien dan peruntukannya benar-benar tepat sasaran. "Subsidi tahun 2019 ini targetnya Rp 160 triliun, tapi saya kira nggak akan sampai. Paling di angka Rp 120 triliun sampai Rp 130 trilyun. Karena harga komoditas energi banyak yang ... Baca halaman selanjutnya