Budidaya Ikan di Pariaman Gunakan Sistem Probiotik Alami

"dengan probiotik produksi ikan lebih menguntungkan karena kualitas produk meningkat"
Citra, Kepala Bidang Perikanan dan Kelautan, Kota Pariaman saat diwawancarai. (KLIKPOSITIF/Rehasa)

PARIAMAN, KLIKPOSITIF -- Penggunaan probiotik dalam pembudidayaan ikan mampu mempercepat pertumbuhan ikan dengan cara menciptakan bakteri baik dari hasil fermentasi alami. Teori Probiotik tersebut tengah diterapkan di Pariaman oleh Bidang Perikanan dan Kelautan, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kota Pariaman.

Saat ditemui, Citra, Kepala Bidang Perikanan dan Kelautan, Kota Pariaman mengatakan, dengan probiotik produksi ikan lebih menguntungkan karena kualitas produk meningkat. Pemakaiannya sudah dicanangkan di beberapa tempat pembudidayaan ikan.

"Probiotik sendiri merupakan hasil fermentasi bahan-bahan alami bukan kimia, sehingga menciptakan bakteri baik untuk ikan," jelas Citra, Jumat 6 September 2019.

Bakteri baik itu, jelas Citra lagi, berupa flok-flok yang bisa menjadi pangan untuk dikonsumsi oleh ikan. "Bahkan, Probiotik ini mampu mengurai ampas pangan dari pelet atau sisa makanan ikan lainnya, sehingga kualitas air sangat bermutu, " sebutnya.

Sejauh ini, kata dia lagi, perihal tersebut mendongkrak nilai produksi ikan lebih cepat dan berkualitas. Contohnya, pada salah satu kelompok budidaya ikan yang bernama kelompok budidaya 3 Saudara di kawasan Alai Galombang, Pariaman.
"Mereka menggunakan probiotik merk E4M. Lele yang biasanya dipanen tiga bulan dapat dipanen hanya dalam waktu empat minggu. Nah, itukan sangat menguntungkan sekali," sebut Citra.

Citra juga mengatakan, untuk jumlah kelompok budidaya ikan yang aktif di Pariaman berjumlah 27 kelompok. "Untuk kelompok tersebut kami canangkan sistem probiotik ini," katanya.

Berkenaan dengan itu, Citra juga mengatakan nilai produksi perikanan setiap tahun meningkat, pengaruh Probiotik digadang-gadangkan sebagai salah satu alasan peningkatan tersebut. "Pada tahun 2016 produksi perikanan lebih dari 267 Ton. Naik pada tahun 2017 menjadi 274 ton per tahun," ungkap Citra.

[Rehasa]