Pengamat Otomotif Kritik Mobil Esemka, Ngabalin Respon Begini

"Coba ditelaah baik-baik, open recruitment-nya sudah dipublikasikan, bahwa anak-anak SMK terkait tenaga kerja Indonesia dan 100 persen perusahaan swasta, ini kurang lebih 5-7 tahun lho"
Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Kepresidenan Ali Mochtar Ngabalin (Suara.com)

KLIKPOSITIF -- Kritik pengamat otomotif sekaligus pegiat media sosial Ridwan Hanif terkait mobil Esemka membuat Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Kepresidenan Ali Mochtar Ngabalin meresponnya.

Berawal ketika Ridwan Hanif mengatakan bahwa pabrik mobil Esemka selama ini selalu tertutup. Sementara, menurut dia, industri otomotif butuh kepercayaan dan transparansi.

"Masalahnya ada di komunikasi. Selama ini (Esemka) selalu tertutup, tidak terbuka. Sementara, kalau bisa otomotif, trust (kepercayaan--red) itu penting," kata Ridwan Hanif dalam dialog Sapa Indonesia Kompas TV, Sabtu (7/9/2019).

Ridwan Hanif berpendapat, biasanya sebelum produksi, pabrik mobil bakal gencar melakukan publikasi. Tapi, kata Ridwan Hanif, tidak dengan Esemka.

"Biasanya, kalau pabrik mobil, saat peletakan batu pertama sudah ditunjukkan ke masyarakat. Terus bikin show mobil-mobil yang bakal diproduksi," ujar Ridwan Hanif.

Untuk Esemka, Ridwan Hanif mengaku belum melihat spesifikasi mobilnya. Dia mengklaim baru melihat dari televisi dari orang-orang yang diundang.

"Spesifikasi mobilnya kita belum lihat, baru lihat di televisi dari hanya orang yang diundang yang tahu, dan nggak semua jurnalis otomotif yang diundang," kata dia.

Pun Ridwan Hanif mengatakan semestinya mobil Esemka meniru Vinfast produksi Vietnam. Menurut dia, Vinfast sangat terbuka dan niat memproduksi mobil, salah satunya dari segi bisnis.

"Vinfast itu pertama berpartner dengan general motor (GM), kemudian dia menggandeng beberapa pihak dalam onderdil dan desainnya. Lalu mereka open order sejak 2008, bahkan brand ambbasador-nya David Beckham. Mereka benar-benar niatnya jualan dan ingin untung," ujarnya.

Ridwan Hanif menyoroti pentingnya keyakinan masyarakat untuk membeli mobil. Terlebih, imbuh Ridwan Hanif, mobil bukan barang murah.

"Mobil itu kan sesuatu yang mahal, banyak mempertimbangan untuk membelinya, seharusnya yakinkan ... Baca halaman selanjutnya