BMKG Perkirakan Peningkatan Potensi Karhutla, Dishut Sumbar Terus Patroli

Ilustrasi/KLIKPOSITIF
Ilustrasi/KLIKPOSITIF (Istimewa )

PADANG, KLIKPOSITIF - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) memperkirakan ada berapa wilayah di Indonesia yang mengalami peningkatan potensi kemudahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam lima hari kedepan yakni tanggal 9 hingga 12 September.

Wilayah yang berpotensi karhutal itu termasuk di Sumatra Barat. Selainnya ada diwilayah Sumtera Utara bagian selatan, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan.

baca juga: Pagi-pagi Gempa Guncang Mentawai, Ini Penjelasan BMKG

Menyikapi perkiraan dari BMKG itu, Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Yozarwardi Usama Putra bersama timnya terus melakukan pemantauan di beberapa titik yang rawan karhutla dengan melakukan patroli melalui Polisi Hutan (Polhut)  bekerjasama dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Brigade dan Masyarakat Peduli Api (MPA) sebagai perpanjagan tangan di lapangan.

"Jadi jika terjadi kebakaran, unit ini akan langsung bergerak melakukan penanganan pertama serta memberikan laporan," katanya, Senin, 9 September 2019. 

baca juga: Kadishut Sumbar: Kerja Sama Pemanfaatan Hutan untuk Berdayakan Ekonomi Di Tengah Pandemi COVID-19

Kemudian pihaknya, juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, dan membuat api unggun serta tidak membuang puntungan rokok sembarangan yang dapat memicu karhutla.

"Kita juga setiap hari terus memantau  terdapat hotspot di wilayah sumbar melalui Sipongi (KLHK), Satelit NOAA20, Terra Aqua Modis," katanya.

baca juga: Di Tengah Pandemi COVID-19, ASN Dishut Sumbar Bekerja Maksimal Walaupun dari Rumah

Sebelumnya, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Erman Rahman menginformasikan telah terjadi karhutla pada tanggal 5 September 2019. Kebakaran lahan terjadi Jorong Koto Tinggi blok C Nagari Koto Besar Kecamatan Koto Besar Kabupaten Dhamasraya pada pukul 18.00 WIB dengan luas 4 hektar akibat kelalaian atau human error.

"Di Kota Solok kebakaran lahan pada tanggal 6 September 2018 pada pukul 13.15 WIB akibat musim kemarau terjadi di Solok dengan lokasi bencana kebakaran lahan di Laiang, dekat PT Wing, dekat gedung DPRD Kota Solok, depan Puskesmas Nan Balimo dan  Jalan Lingkar," tukasnya.

baca juga: Selain Dinihari Tadi, Empat Dentuman Misterius Ini Sempat Gegerkan Indonesia

Untuk diketahuk dedikitnya 2.510 titik panas terpantau tersebar di seluruh wilayah Asean. Seluruh titik panas tersebut terpantau oleh citra Satelit Terra Aqua MODIS, SNPP, NOAA20 dan Satelit Himawari-8 selama kurun 4 - 7 September 2019. 

Deputi Bidang Meteorologi, BMKG Drs. R. Mulyono R. Prabowo, menerangkan jumlah titik panas di ASEAN dalam 4 hari terakhir (4-7 September 2019) cukup fluktuatif dengan kecenderungan semakin bertambah. Pada 4 September 2019 lalu, BMKG memantau terdapat 727 titik panas di seluruh ASEAN, kemudian pada 5 September 2019 jumlah titik panas turun menjadi 516 titik. Tanggal 6 September 2019 titik panas kembali mulai meningkat menjadi 619 titik, kemudian 7 September  2019 menjadi 648 titik.

"Seluruh titik panas tersebut tersebar di beberapa wilayah negara ASEAN diantaranya Indonesia (Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan), Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Vietnam, Timor Leste dan Thailand,"

Terkait peluang terjadinya hujan, Mulyono menuturkan saat ini sudah teramati terjadi hujan di beberapa wilayah Sumatra, termasuk di Riau. Dalam tiga hari kedepan diprakirakan akan terjadi hujan di Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan Barat bag. utara, Kalimantan Utara, dan Papua  dengan intensitas ringan hingga sedang. 

"Meskipun begitu BMKG menghimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada dan berhati-hati terhadap tingginya polusi udara, radiasi matahari yang cukup terik, dan potensi kemudahan kebakaran hutan dan lahan. Selain itu masyarakat juga diharap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologis seperti kekeringan," pungkasnya. (*)

Penulis: Joni Abdul Kasir