Polres Sawahlunto Ungkap Peredaran Uang Palsu, Satu Pelaku Masih Dibawah Umur

"keduanya dijerat dengan pasal 36 ayat 1, 2 dan 3 Undang-undang Republik Indonesia nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang"
Wakapolres Sawahlunto Kompol Jerry Syahrim Saat Menunjukkan Uang Palsu Bersama Pelaku SAH di Mapolres Sawahlunto, Kamis 12 September 2019 (Muhammad Haikal/Klikpositif)

SAWAHLUNTO, KLIKPOSITIF -- Kepolisian Resor (Polres) Sawahlunto mengungkap kasus peredaran uang palsu. Kasus tersebut, melibatkan seorang anak dibawah umur berinisial DV dan seorang  remaja SAH (18), serta tiga rekan lainnya yang masih diburu.

Wakapolres Sawahlunto Kompol Jerry Syahrim mengatakan, DV dan SAH ditangkap di Lapangan Segitiga, Kelurahan Saringan, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, pada 5 September 2019. Uang palsu tersebut, lanjutnya, dicetak dengan menggunakan mesin printer merk Canon PIXMA MP287.

"Dari pengakuan keduanya, uang tersebut dicetak sehari sebelum ia ditangkap oleh kami. Saat dilakukan penggeledahan, dari keduanya ditemukan uang palsu berjumlah Rp3,2 juta dengan rincian, pecahan Rp100 ribu sebanyak 28 lembar dan pecahan Rp50 ribu sebanyak 8 lembar," katanya saat press release di Mapolres Sawahlunto, 12 September 2019.

Jerry menjelaskan, keduanya dijerat dengan pasal 36 ayat 1, 2 dan 3 Undang-undang Republik Indonesia nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang. "Ancamannya, untuk memalsukan dan menyimpan 10 tahun penjara dan denda Rp10 milyar, untuk mengedarkan, ancamannya 15 tahun penjara dan denda Rp50 milyar.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Sawahlunto AKP Julkipli Ritonga menambahkan, aksi mereka terungkap setelah mereka melakukan aksi membelanjakan uang palsu tersebut untuk ketiga kalinya ke korban Safrida.

"Untuk aksi pertama, SAH dengan belanja minuman kemasan seharga Rp6 ribu menggunakan uang palsu pecahan Rp100 ribu, kemudian korban mengembalikan Rp94 ribu. Aksi kedua pelaku belanja lagi dengan menggunakan uang Rp100 ribu," katanya.

"Kemudian untuk yang ketiga kalinya, pelaku kembali berbelanja ke tempat korban dengan menggunakan uang palsu Rp100 ribu, karena tidak ada uang kembalian, korban menyuruh anaknya untuk menukarkan uang tersebut ke warung sebelah, saat diteliti barulah diketahui uang tersebut berbeda dengan uang asli," ujarnya.

Julkipli ... Baca halaman selanjutnya