Kemenag Ajak Perguruan Tinggi Ikut Kembangkan Ekonomi Wakaf

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF -- Umat Islam, terutama kalangan terpelajar, perlu memberi perhatian lebih besar terhadap pengembangan wakaf. Kemenag bahkan mengajak civitas akademika perguruan tinggi untuk ikut berperan dalam pengembangan ekonomi wakaf.

Hal itu disampaikan Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf M Fuad Nashar di depan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam Riau (UIR) di Pekanbaru, Jumat (13/09), dalam acara Wakaf Goes to Campus yang digelar Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Riau.

baca juga: Suara Kader Partai, Prabowo Bakal Kembali Jabat Ketum Gerindra

Menurut Fuad, saat ini banyak ditemukan aset wakaf terutama tanah yang tidak diproduktifkan atau malah ditukar disebabkan keterbatasan kapasitas dan pengetahuan nadzir dalam mengelolanya. Padahal tanah wakaf tersebut terletak di lokasi strategis dan memiliki prospek ekonomi yang tinggi. Selain nilai manfaat tanah wakaf, perlu dioptimalkan juga penghimpunan dan pengelolaan wakaf uang, saham, asuransi, hak paten, sukuk wakaf dan sebagainya sebagai instrumen pembiayaan syariah jangka panjang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Penguatan kelembagaan ekonomi umat, terutama ekonomi syariah, zakat dan wakaf menjadi salah satu isu penting dalam pembangunan di negara kita pada saat ini," jelas Fuad.

baca juga: Kodim 0306/50 Kota Renovasi 10 Rumah Veteran dan Warga Miskin di Suliki

"Saya mengajak sarjana lulusan perguruan tinggi agar berperan mengembangkan wakaf," lanjutnya.

Profesi sebagai nadzir wakaf profesional, kata Fuad, harus ditopang dengan modal pendidikan dan keahlian yang relevan, jiwa entrepreneurship serta memiliki passion dan kecintaan terhadap dunia wakaf.

baca juga: Pemerintah: Tarif Listrik Pelanggan Non Subsidi Hingga September Tak Naik

Fuad menilai, masa depan perwakafan, harus berkembang lebih maju di tengah berbagai tantangan ekonomi nasional dan ekonomi global dewasa ini. Di negara-negara berpenduduk muslim, selain hak milik pribadi dan hak milik negara, ada hak milik wakaf yang menjadi pilar kesejahteraan umum. Untuk itu, penguatan literasi wakaf pada generasi millenial menjadi satu keniscayaan.

"Wakaf merupakan aset masa depan. Sarana pendidikan, kegiatan riset, ekonomi, industri, rumah sakit, perumahan, perhotelan, pariwisata halal, agro industri, transportasi, dan sebagainya sangat dimungkinkan dibangun berbasis wakaf. Untuk itu pengembangan skema pembiayaan wakaf, pembangunan insfrastruktur ekonomi dan sosial berbasis wakaf memerlukan SDM dalam hal ini nadzir wakaf dengan latar belakang pendidikan dan kompetensi yang memadai," tuturnya.

baca juga: Longsor Hantam Rumah di Sariek Alahan Tigo, Dua Orang Meninggal

"Nadzir wakaf lulusan perguruan tinggi harus lebih banyak dikader dan minat generasi milenial menjadi nadzir wakaf perlu ditumbuhkan," sambungnya.

Fuad menegaskan, wakaf bukan sekadar menyerahkan harta sebagai ibadah sosial agar mengalir pahalanya kepada orang yang berwakaf setelah meninggal dunia. Tetapi wakaf harus mengalirkan manfaat secara berkelanjutan kepada manusia yang hidup.

"Nadzir wakaf adalah kunci penentu berkembang atau tidaknya manfaat harta wakaf. Nadzir wakaf pada hakikatnya adalah manajer pengelola aset wakaf," tegasnya.

Dalam kaitan itu, penguatan literasi ekonomi dan keuangan syariah, salah satunya lewat jalur perguruan tinggi sangat penting dikedepankan. Pengembangan wakaf dengan dukungan kolaborasi perguruan tinggi diharapkan terus menggema di Indonesia.

Bentuk sinergi wakaf dengan perguruan tinggi, di antaranya ialah dalam pengimplementasian Tridharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat), pengembangan kurikulum wakaf sesuai kondisi kekinian, program vokasi di bidang wakaf, inisiasi badan wakaf universitas dan lain-lain.

"Fakultas Ekonomi, apalagi di lingkungan perguruan tinggi Islam, diharapkan bisa melahirkan ide-ide kreatif dan konsep brilian tentang ekonomi wakaf yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa, negara dan kemanusiaan," tandas Fuad.

Penulis: Eko Fajri