Suhu di Sumbar Terasa Lebih Dingin, Ini Penjelasan BMKG

Ilustrasi
Ilustrasi (KLIKPOSITIF/Haswandi)

PESSEL , KLIKPOSITIF  -- Masyarakat di sebagian daerah di Sumbar, tak terkecuali di Kabupaten Pesisir Selatan , beberapa hari belakangan ini merasakan perubahan suhu iklim yang signifikan dingin. Perubahan suhu ini dirasakan secara tiba-tiba, terutama saat malam hingga pagi hari.

Perubahan suhu di daerah ini jauh berbeda dari bulan-bulan dan tahun sebelumnya. Di mana yang biasa lebih membuat gerah, namun belakangan ini cenderung lebih dingin.

baca juga: Kisah Perantau Minang Tak Bisa Pulang dari Malaysia

"Biasanya suhu suka membuat gerah (suhu iklim). Tapi, beberapa hari belakangan ini. Meski sudah siang masih terasa sejuk," ungkap Iwen (36) salah seorang warga di Nagari Kambang Utara, Lengayang- Pessel kepada KLIKPOSITIF , Senin 16 September 2019.

Sebagai masyarakat biasa, ia tidak mengetahui apa yang mempengaruhi perubahan iklim tersebut. Namun, jika dibandingkan dengan hari sebelumnya, ia merasa lebih canggung.

baca juga: Pagi-pagi Gempa Guncang Mentawai, Ini Penjelasan BMKG

"Ini paling terasa, Sabtu (14/9) lalu. Biasanya hujan tidak seperti ini dinginnya," ujarnya.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) memantau, belakangan ini memang terjadi perubahan suhu yang siginifikan. Perubahan tersebut terjadi penurunan calcius, dari 22.7 derajat menjadi sebesar 18.6 derajat.

baca juga: Satu Pasien COVID-19 Asal Pessel Dinyatakan Sembuh

"Sehingga dapat dikategorikan sebagai (perubahan suhu ) ekstrem. Fenomena suhu udara yang dingin ini memang lumrah terjadi pada saat musim kemarau," terang Kepala Seksi BMKG Minangkabau Yudha Nugraha kepada KLIKPOSITIF .

Ia menjelaskan, terjadi perubahan suhu iklim, hampir terjadi setiap kemarau. Diantaranya karena tidak ada awan yang terbentuk pada atmosfer. Sehingga mengakibatkan permukaan bumi mampu melepas radiasi gelombang panjang ke atmosfer.

baca juga: Satgas BUMN Salurkan Bantuan Penanganan COVID di Pessel

"Selain itu kondisi pada saat musim kemarau cenderung memiliki kelembaban udara yang rendah atau kering, yang berarti tidak adanya uap air yang cukup di udara untuk menahan panas di bumi sehingga kondisi ini semakin menurunkan suhu udara pada malam hari,"jelasnya.

Lanjutnya, selain pengaruh kemarau, hal itu diantara lain juga dipengaruhi karena adanya kabut asap. Di mana saat terjadi kabut asap, radiasi matahari tidak dapat masuk ke permukiman bumi.

"Mengingat kondisi asap sudah mulai berkurang, dalam 2 atau 3 hari ini suhu minimum diperkarakan akan kembali ke normalnya sekitar 21-22 derajat," tutupnya.

Sebelumnya, dengan kondisi yang sama juga pernah terjadi pada Januari 2018 lalu. Di mana masyarakat di Kabupaten Pesisir Selatan , Sumatera Barat merasakan perubahan suhu udara yang signifikan, yakin dari normal menjadi lebih dingin.

[Kiki Julnasri]

Penulis: Iwan R