Lauak Mungkuih Menjadi Icon Ranah Pesisir

Seorang petani di Pessel sedang menangkap ikan mungkuih.
Seorang petani di Pessel sedang menangkap ikan mungkuih. (istimewa)

KLIKPOSITIF -- Mereka yang pernah berkunjung ke pasar Ranah Pesisir, tepatnya di daerah Balai Selasa akan menjumpai ikan air tawar bertubuh mungil dengan bentuk unik dan warna yang beraneka ragam.

Masyarakat Balai Selasa menyebutnya dengan lauak mungkuih (ikan mungkus).  Ikan mungkus ini banyak ditemukan di pantai Sumatera Barat, terutama di Kabupaten Pesisir Selatan.

baca juga: Pasien Sembuh COVID di Pessel Bertambah Dua Orang, Total Jadi 15 Orang

Ikan ini awalnya menetes di laut, setelah menetes menjadi anak mungkus yang sudah bisa berenang dan lincah. Anak mungkus tersebut akan bergerombol berenang ke hulu sungai dan melawan arus yang begitu kuat.

Salah seorang penangkap mungkus, Jamaris mengaku, dulu pernah melihat ikan tersebut berenang bergerombol menuju hulu sungai. Namun, berjalannya waktu, pemandangan tersebut sudah tak lagi ditemukan di sungai, karena rata-rata sudah ditangkap duluan sebelum sampai ke hulu.

baca juga: Hanyut di Bendungan Lesung Air, Seorang Remaja Pessel Ditemukan Meninggal

“Seingat saya anak mungkus ini berenang menuju hulu sungai selalu menjelang senja, entah apa penyebabnya, saya kurang tahu,” kata Jamaris.

Ikan mungkus pun memakan lumut yang ada di bebatuan untuk bertahan hidup. Tergolong ke dalam jenis Sicyopterus Stimpsoni, ikan ini hanya bisa hidup di air yang bersih dan deras.

baca juga: Lama di Rumah Akibat Pandemi, Guru di Pessel Kembali Bertugas ke Sekolah

Bahkan, mungkus mampu merayap melawan arus yang sangat kuat. Hal tersebut bisa dilakukan karena adanya cupak di atas bagian perut.

Cupak tersebut akan menempel dengan sangat kuat pada bebatuan, sehingga jika ditangkap akan sulit. Uniknya, semua yang ada di ikan ini bisa dimanfaatkan menjadi makanan, mulai dari daging hingga buang airnya.

baca juga: 42 Hasil Tes Warga di Pessel Dinyatakan Negatif, 38 Orang Masih Menunggu

Tidak hanya bentuk ikan yang unik, cara menangkap ikan mungkus pun juga menarik. Alat penangkap ikan mungkus yang digunakan para pemancing mungkuih ini terbuat dari kayu yang tidak mudah patah dan lapuk jika lama terkena air, sehingga bisa digunakan untuk jangka waktu yang panjang.

Harga ikan mungkus juga terbilang cukup mahal di pasaran. Harga perikat yang berisi dua ekor ikan dengan harga mencapai Rp2000 hingga Rp3000. Bahkan, pernah harga ikan mungkus ini naik di pasaran dan mencapai angka Rp25.000.

Namun, pesona Balai Selasa yang kaya dengan ikan mungkus dan terkenal dengan masakan kuliner berbahan ikan mungkus, membuat seorang seniman bernama Rizam MZ berinsiatif untuk menjadikan mungkus sebagai gambaran Ranah Pesisir.

Alumni dari SMSR Padang tahun 1984 Padang ini mengusulkan untuk membangun tugu yang berbentuk dua ekor ikan mungkus yang sudah diikat. Menurutnya, dua ikan mungkus yang sudah diikat bisa menjadi lambang keakraban masyarakat Ranah Pesisir.

Berdasarkan hasil musyawarah, akhirnya Kecamatan mengabulkan permintaan Rizam. Tugu itu pun dibuat di tempat strategis yaitu dipertigaan jalan antara kantor Kecamatan dan Polsek Balai Selasa. Tahun 2017, tugu mungkus dibangun dan Februari 2019 tugu mungkuih diresmikan menjadi ikon Ranah Pesisir.

[Rice Priani]

Penulis: Agusmanto