Sumpah Darah dengan Harimau

Silat
Silat ([Ramadhani])

PADANG LAWEH, KLIKPOSITIF -“Orang Padang Laweh, di mana pun mereka berada, tidak akan pernah mati diterkam harimau,” Indra, seorang guru silat di Nagari Padang Laweh Sijunjung membuka cerita.

“Di masa lalu nenek moyang kami telah mengikat sumpah dengan harimau,” katanya sambil membetulkan duduk. Mobi yang kami tumpangi sejak tadi memang terhuyung-huyung menelurusi jalanan di tengah kampung dengan lubang menganga di mana-mana.

Indra adalah seorang guru pendekar, dan juga seorang guru silat untuk lebih tepatnya. Beberapa kali dalam seminggu Indra dan anggota perguruannya menggelar latihan rutin. Biasanya latihan silat digelar malam hari. Sejak usia dini, Indra telah menggeluti ilmu beladiri. Ilmu silat yang dikuasainya adala khas Padang Laweh, yakni Silat Harimau. Tidak mudah untuk mencapai pada tingkatan itu. Seorang pendekar harus melewati tahapan-tahapan tertentu sebelum bisa menerima ajaran Silat Harimau.

Baca Juga

Di dalam mobil yang terguncag-guncang itu Indra mengisahkan cerita kuno yang turun temurun dikisahkan oleh orang-orang di kampungnya. Pada masa lalu, yang tidak bisa diukur dengan waktu, Indra menjelaskan, saat belantara Sumatera masih dipenuhi banyak makhluk-makhluk buas, orang-orang Padang Laweh telah hidup bersanding dengan alam. Batang Ombilin yang mengalir di sepanjang kampung menjadi denyut kehidupan sehari-hari masyrakat.

Suatu ketika, seekor anak harimau hanyut di bawa arus Batang Ombilin. Warga Padang Laweh percaya, anak harimau itu telah jatuh dan diseret aliran sungai sejak dari Batang Sumpu. Merasa iba melihat anak harimau itu, warga kemudian turun ke tengah sungai dan menyelamatkannya. Anak harimau yang diselamatkan itu kemdian dilepaskan kembali ke dalam lebatnya hutan.

 Tak lama berselang setelah peristiwa itu, seekor harimau besar masuk ke dalam kampung. “Zaman dulu, orang punya banyak kepandaian. Ada juga yang bisa mengerti bahasa alam,” kata Indra. Tetua-tetua kampung ini yang kemudian menghadapi si harimau. Kedatangan harimau yang awalnya dianggap ancaman itu ternyata salah. Berkat kepandaian, tetua kampung, diketahui jika harimau besar yang masuk kampung adalah induk anak harimau yang diselamatkan masyarakat Padang Laweh.

Sang induk itu, ingin menunjukkan rasa terimakasihnya kepada orang-orang Padang Laweh. Harimau itu merasa telah berhutang nyawa dan ingin membalas budi kepada orang-orang Padang Laweh. “Di situlah kemudian sebuah sumpah tua itu diikat,” ujar Indra.

Harimau bersumpah sepanjang darah keturunannya, tidak akan pernah menyentuh orang-orang Padang Laweh beserta segala keturunannya. Di mana pun mereka berada orang Padang Laweh tidak akan pernah dilukai oleh harimau. Jika nanti ada yang melanggar sumpah, ujar Indra Lagi, maka utang darah akan dibayar darah.

 “Ka lurah indak barayia, ka bukik indak barangain. itulah nasib yang akan menimpa harimau jika melanggar sumpah itu. Maksudnya, harimau itu tidak akan lagi bisa menemukan tempatnya bernaung. Tidak ada sumber kehidupan di alam tempatnya hidup. Sampai akhirnya kemudian mati dengan sendirinya,” kata Indra lagi.

 Indra menjelaskan sumpah itu tidak hanya terkait orang Padang Laweh saja, namun juga seisi kampung. Harimau tidak boleh memanga hewan ternak yang menjadi pendukung kehidupan warga. Kedatangan harimau ke kampung Padang Laweh kemudian juga akan menjadi petanda bagi warga. Auman harimau, berarti sebuah peristiwa yang buruk telah terjadi di dalam kampung.

Hingga hari ini, kata Indra, warga percaya dengan tanda itu karena memang kemudian terbukti. Jika malam hari sering terdengar suara harimau, maka tetua kampung akan mengumpulkan warga dan menggelar rapat. Dalam rapat itu akan dicari tahu, apa kejadian buruk yang terjadi namun masih menjadi rahasia. Tidak diketahui oleh orang banyak.

 “Biasanya setelah rapat, baru diketahui kejadian buruk yang dimaksud itu. Misalnya jika ada muda-mudi yang berbuat salah. Tidak sesuai dengan norma adat yang ada,” ujar Indra.

 Rapat yang sama juga digelar jika ada hewan ternak yang dimakan harimau. Orang-orang di kampung Padang Laweh akan mencari tahu jika ada perbuatan buruk yang dilakukan warga. Jika ternyata tidak ada, berarti harimau yang makan ternak itu telah melanggar sumpah. Biasanya harimau itu akan diburu dan dibunuh.

 “Jika sudah diburu tapi tidak ketemu, maka harimau itu mengalami nasibnya sendiri. Ka lurah indak barayia, ka bukik indak barangin. Dia akan mati dengan sendirinya,” tutur Indra.

 Hingga hari ini, sumpah itu masih diteruskan dari generasi ke generasi di Padang Laweh. Mereka percaya ada ikatan yang tak bisa mereka lepas dengan harimau.

 “Beberapa kali saya coba di kebun binatang di Bukittinggi, tapi tidak pernah bisa saya lihat tubuh dan batang hidungnya, Hingga saat ini saya tidak pernah melihat harimau,” kata Indra.

[Ramadhani]

Baca Juga

Penulis: Adil Wandi

Video Terbaru

Kakek yang Viral Beli Obat dengan Uang Mainan Akan Segera Umrah

YouTube channel KlikPositif.com