Menjaga Batanghari, Merevitalisasi Sejarah Maritim Indonesia

(Ist)

KLIKPOSITIF - Untuk memperingati Hari Maritim Nasional yang jatuh pada 23 September, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya menggelar talkshow kemaritiman di Komplek Candi Pulau Sawah, Nagari Siguntur, Kabupaten Dharmasraya, Senin (23/9/2019).

Dalam talkshow yang dipandu Direktur Langgam Institute Pandong Spenra itu, hadir sejarawan, budayawan, peneliti hingga pejabat pemerintah sebagai pembicara.

Sejarawan Universitas Andalas Gusti Asnan yang didaulat menjadi pembicara pertama, memaparkan sejarah Batanghari yang sudah dilayari sejak zaman prasejarah.

Baca Juga

"Batanghari telah dilayari sejak masa prasejarah. Sungai yang digunakan oleh nenek moyang untuk masuk ke pedalaman," tutur Gusti.

Batanghari, menurutnya, tetap dilayari pada masa klasik. "Suatu masa yang ditandai dengan adanya kerajaan besar, raja yang hebat, dan karya budaya yang mengagumkan."

Karena peradaban sungai tersebut, menurut Gusti, Kerajaan Malayu Dharmasraya berkembang dan meninggalkan candi, arca dan berbagai peninggalan kuno.

"Keberadaan dan kebesaran Dharmasraya bisa dilihat dari perspektif ‘peradaban sungai’ dengan menggunakan teori ‘hulu-hilr’," katanya.

Peradaban yang berbasiskan sungai, menurutnya, unsur-unsur peradabannya berkaitan secara langsung dengan sungai. "Peradaban memiliki, setidaknya, tiga basis. Yakni pemerintahan (politik), ekonomi, ilmu/teknologi dan religi. Kehebatan Dharmasraya bisa dilihat dari tiga aspek ini," jelasnya.

Ketika Adityawarman memindahkan pusat kerajaan dari Dharmasraya ke Tanah Datar pada abad ke-14, menurut Gusti, tidak mematikan Dharmasraya.

"Potensi dan kekayaan alam Dharmasraya, terutama emas tetap menjadi unggulan dan modal bagi kejayaannya. Unsur peradaban dan kebudayaan tetap tumbuh dan berkembang, namun berganti dengan Islam. Ada hubungan pula dengan beralihnya agama permukiman di bagian hilir," katanya.

Peneliti sejarah Wenri Wanhar dari Perkumpulan Wangsamudra menyebut, Pulau Sumatra pada masa lalu disebut sebagai Pulau Samudra. "Sa berarti totalitas. Mudra berarti keselarasan."

Penyebutan nama pulau berganti menjadi Sumatra, menurutnya, ketika Pemerintah Hindia Belanda merujuk catatan perjalanan Marco Polo pada abad ke-13.

"Marco Polo adalah orang pertama yang menulis nama 'Sumatra'," ujarnya.

Marco Polo, menurutnya, menulis Sumatra. Yang dia maksud sebenarnya adalah samudra. Teknologi kapal pada masa lalu, menurutnya, memungkin Bangsa Samudra berlayar dan berdagang jauh hingga ke Asia Barat dan Eropa.

Salah satu bukti peninggalan tersebut, menurut Wenri, adalah teknologi kapal dengan "cadik". Cadik, menurut Wenri berasal dari kata "cadiak" alias cerdik. "Cerdik merujuk pada kearifan menimbang sama berat. Hal yang kemudian diwujudkan dalam teknologi kapal."

Kesadaran akan kehebatan Bangsa Indonesia masa lalu di laut, menurut Wenri, membuat Bung Karno memberi judul pidatonya pada 23 September 1963 "Kembalilah menjadi Bangsa Samudra". Tanggal yang setahun kemudian ditetapkan sebagai Hari Maritim Nasional.

Aktivis budaya Trie Utami yang turut menjadi pembicara menyarankan perlunya revitalisasi Batanghari sejak dari hulu hingga ke hilir.

"Tidak hanya secara fisik, tetapi juga kebudayaan. Langscap tidak bisa berjalan sendiri tanpa livescap," tuturnya.

Ia juga berbagi pengalaman dengan temuan 43 jenis relief alat musik di Candi Borobudur yang berasal dari berbagai belahan daerah di Indonesia, bahkan dunia.

Relief alat musik yang 'dikumpulkan' di Candi Borobudur, menurutnya, merupakan bukti Bangsa Indonesia adalah bangsa maritim. Karena, pengumpulan tersebut, bisa dilakukan hanya dengan jalan tranportasi melalui laut.

Kepala Sub Direktorat Inventarisasi Penggunaan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ria Rosmayani Damopolii membagi hasil penelitiannya dengan tim ITB tentang kondisi pencemaran di Batanghari dan Dharmasraya.

Menurutnya, hasil penelitian menunjukkan, konsentrasi Merkuri (Hg) secara umum di lingkungan (udara, sungai, sedimen, tanah, tanaman) di dua nagari yang diteliti di Dharmasraya, sudah melebihi baku mutu.

"Konsentrasi merkuri (Hg) secara umum di sampel tubuh responden dewasa (urin, kuku, rambut) dan responden anak (urin dan darah) sudah melebihi nilai ambang batas sesuai standar internasional (WHO)," katanya.

Dampak kesehatan dari tingginya merkuri, menurut Ria, secara umum sudah terlihat dari hasil pemeriksaan responden. "Perlu dilakukan upaya segera dan terintegrasi agar pencemaran ini tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih jauh," ujarnya.

Hal tersebut, menurutnya, karena kandungan merkuri yang dipakai dalam pertambangan emas di Batanghari telah menimbulkan gangguan kesehatan.

"Dua dari 31 responden di Kecamatan IX Koto mengalami kelainan tulang/sendi, seperti osteoarthritis dan deformitas kontraktur. Selain itu 8 orang mengalami Hipertensi Grade I. Sementara,1 dari 18 responden di Kecamatan Sitiung memiliki gangguan jantung dan 2 responden mengalami hipertensi Grade I."

Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Tukul Rameyo menyatakan perayaan hari maritim di Dharmasraya merupakan peringatan nasional.

"Hal ini dibuktikan dengan surat presiden yang semula berencana menghadiri acara ini."

Ia berharap perayaan di Dharmasraya yang dirangkai dengan Festival Pamalayu bisa menghasilkan literasi budaya maritim agraris. "Banyak kearifan budaya yang harus kita literasikan kembali," ujarnya.

Tukul Rameyo juga berharap Dharmasraya dan daerah sepanjang aliran Batanghari bisa merevitalisasi literasi tentang jalur rempah.

"Jalur Rempah diusulkan sebagai UNESCO world heritage (2021). Hal ini untuk memberikan visi bahwa poros maritim dan komoditi rempah merupakan satu kesatuan visi pembangunan nasional. Memaparkan potensi rempah kita sebagai salah satu sektor utama dalam pengembangan poros maritim," jelasnya.

Diskusi berlangsung di area terbuka Komplek Percandian Pulau Sawah, hanya beberapa puluh meter dari Batanghari. Ikut berdiskusi dalam kesempatan itu Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan, pejabat, tokoh adat, tokoh masyarakat dan ratusan masyarakat Dharmasraya.

[Rilis]

Penulis: Khadijah | Editor: -