Sidang Lanjutan Mangrove Bergulir, Tim PH Minta Hakim Batalkan Surat Dakwaan Jaksa

"Selain tidak sesuai prosesdur hukum, pihaknya juga menilai proses kasus yang menjerat kliennya terkesan tembang pilih, karena ada empat orang yang dilaporkan bersamaan dengan Rusma Yul Anwar untuk kasus yang sama"
Sidang Kedua Kerusaksan Mangrove di Pessel yang digelar di Pengadilan Negeri Klas I A Padang, Selasa 25 September 2019 (Istimewa )
menilai proses kasus yang menjerat kliennya terkesan tembang pilih, karena ada empat orang yang dilaporkan bersamaan dengan Rusma Yul Anwar untuk kasus yang sama.

"Sampai saat ini hanya klien kami yang diproses hukum, ditetapkan sebagai tersangka hingga terdakwa, dan tentu publik bisa menilai sendiri (dibalik kasus ini)," ujarnya.

Lanjutnya, jika penuntut umum memuat Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP dalam surat dakwaan perkara a quo, maka menjadi jelas siapa saja yang patut dimintakan pertanggungjawaban pidana. Jika tidak, maka sangat nyata surat dakwaan tidak diuraikan secara cermat, jelas, dan lengkap.

Diketahui, perkara berawal dari dugaan perusakan hutan lindung dan penimbunan hutan bakau (mangrove) di kawasan Mandeh, Kecamatan Koto XI, Pesisir Selatan pada 2016. Dalam dakwaannya, terdakwa dikenakan Pasal 98 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pasal 109 pada dakwaan kedua.

Sebelumnya, Sidang dugaan kerusakan mangrove di Nagari Mandeh Kecamatan Koto XI Tarusan bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Kelas I A Padang, Selasa 17 September 2019 pagi lalu. Sementara itu, JPU Fadlul Azmi Cs, akan memberikan jawaban untuk eksepsi terdakwa itu pada sidang berikutnya.

Diketahui, perkara berawal dari dugaan perusakan hutan lindung dan penimbunan hutan bakau (mangrove) di kawasan Mandeh, Kecamatan Koto XI, Pesisir Selatan pada 2016. Dalam dakwaannya, terdakwa dikenakan Pasal 98 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pasal 109 pada dakwaan kedua.

(Kiki Julnasri)