Diduga Lakukan Ujaran Kebencian, Mahasiswi Asal Pariaman Ditangkap Polisi

"Status dia di screenshoot dan dibagikan ke grup Bhayangkara Nusantara. Setelah itu baru viral, sampai saat ini status WA masih dalam perbincangan grup Bhayangkara"
Kepala Polisi Resor Pariaman, AKBP Andry Kurniawan pada Kamis (26/9) memperlihatkan tangkapan layar WA Mahasiswa yang diduga lakukan ujaran kebencian (KLIKPOSITIF/ Rahesa)

PARIAMAN, KLIKPOSITIF -- Diduga melakukan ujaran kebencian, salah satu Mahasiswi asal Pariaman yang kuliah di Pekanbaru ditangkap pihak Siber Polres Pariaman meskipun telah minta maaf.

Mahasiswi dengan inisial JN tersebut diancam 6 tahun penjara dalam perkara tersebut. Diketahui, JN mengunggah status WA yang berisi dugaan ujaran kebencian dengan tulisan "aparat".

Kepala Polisi Resor Pariaman, AKBP Andry Kurniawan pada Kamis (26/9) mengatakan, pihaknya mengamankan pelaku pada Rabu (25/9) berdasarkan Pasal ITE 19 Tahun 2016.

"Pada Rabu kemarin pelaku kami amankan di rumahnya. Pelaku mengakui perihal tersebut dia yang melakukan dengan kalimat ujaran kebencian pada Aparat," jelas Kapolres, Kamis 26 September 2019.

JN mahasiswi umur 27 tahun itu ditangkap pada pukul 20.00 WIB malam di Sikapak. AKBP Andry juga mengatakan, setelah mengunggah pada jam 4 sore, JN diingatkan oleh salah satu istri Polisi, bahwa perihal tersebut bisa dipidanakan. Setelah diingatkan, JN menghapus statusnya namun dia tetap diamankan oleh polisi pada malam hari.

"Status dia di screenshoot dan dibagikan ke grup Bhayangkara Nusantara. Setelah itu baru viral, sampai saat ini status WA masih dalam perbincangan grup Bhayangkara," ungkap Kapolres.

Adapun status JN, "kok makin benci yaa aku lihat aparat2 itu. Rasanya klw bisa aku tembak mati satu2, biar tau diri semua, mungkin hanya oknum yang berbuat, tapi ttp sama saja semua. Klw bisa sama istri anak bininya juga dimatikan aparat2 ni, sumpah jijik," begitu bunyi status JN, jelas pihak kepolisian.

AKBP Andry juga menghimbau kepada warga, agar bijaklah bermedia sosial. Jika tidak bijak kalimat dan kata-kata akan menjadi kerugian pada diri sendiri.

"Untuk tahun ini baru satu kasus ujaran kebencian yaitu perkara JN ini, " kata Andry. (Rehasa)