Pengakuan Nofri, Masyarakat Asli Wamena Ramah pada Perantau Minang

Nofri Zendra di Papua
Nofri Zendra di Papua (Istimewa )

PADANG, KLIKPOSITIF - Dibalik tragedi berdarah di Wamena, Jayawijaya Papua yang menelan 33 korban, 9 diantaranya warga Sumbar ada cerita lain dari perantau yang sudah belasan tahun di Wamena.

Cerita itu datang dari Nofri Zendra yang sudah sejak 2001 berada di Wamena, Jayawijaya Papua . "Warga asli Wamena bilang perantau Minang boleh," ujarnya kepada KLIKPOSITIF memulai ceritanya.

baca juga: Pemerintah Perpanjang Masa Pelaksanaan Pekerjaan Venue PON XX

Boleh dimaksud dijelaskan Nofri, warga Wamena sangat menerima bahkan mau berteman dengan perantau Minang disana. Bahkan, Nofri sendiri punya anak angkat warga asli yang kini telah menyelesaikan studi S1.

"Kami sudah membaur di Wamena ini, saling menghormati dan kehidupan berjalan dengan aman," katanya.

baca juga: PON XX Papua 2020 Ditunda Hingga Oktober 2021

Namun, saat insiden kemarin dia mengaku tidak habis pikir pergerakan massa datang begitu secara tiba-tiba dan menyebabkan korban nyawa serta harga benda.

"Sebelumnya baik-baik saja, kami menjalani aktivitas berdagang dan tidak pernah ada gangguan dari masyarakat setempat," beber Sekretaris Ikatan Keluarga Minang Wamena itu.

baca juga: Komite II DPD RI Minta Pemerintah Evaluasi Keberadaan Pasukan Non-Organik di Papua

Nofri mengungkapkan, ribuan perantau Minang di Wamena mayoritas dari Kabupaten Pesisir Selatan. Sehingga yang jadi korban juga perantau dari Pessel. Dari sejarah yang didapatnya secara turun temurun, awalnya warga dari Bayang memantau ke Wamena tahun 1966.

Kemudian dari satu orang ini mengajak keluarga yang lain dan terjadi secara terus menerus sehingga menjadi banyak dan dari berbagai daerah di Pessel memantau ke Wamena," ulasnya.

baca juga: 63 Tapol Papua Desak Kasusnya Dibawa ke Meja PBB

Dia sendiri diajak pamannya tahun 2001 dan melakukan perniagaan di Wamena hingga saat ini. Nofri satu satu 300 perantau yang memutuskan untuk bertahan di Wamena dan tidak pulang bersama perantau lain. "Saya memutuskan untuk bertahan, karena disini hidup dan usaha saya," tukasnya. (*)

Penulis: Joni Abdul Kasir