Angka Kematian Ibu Melahirkan di Indonesia Mengkhawatirkan, Ini Penyebabnya

"Angka kematian ibu melahirkan di Indonesia masih berada di tingkat mengkhawatirkan. Dari 1.000 kelahiran hidup, sekitar 30 persen mengalami kematian"
Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KB KR) BKKBN Dwi Listyawardani, Kepala Perwakilan BKKBN Sumbar H Syahruddin, dan Kepala Bidang KB KR Mardalena di Aula kantor BKKBN Sumbar (Istimewa )

PADANG, KLIKPOSITIF - Angka kematian ibu melahirkan di Indonesia masih berada di tingkat mengkhawatirkan. Dari 1.000 kelahiran hidup, sekitar 30 persen mengalami kematian.

Berdasarkan data 2018-2019, angka kematian ibu melahirkan di Indonesia masih tinggi yakni 305 per 1.000 kelahiran hidup. Jika dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia pada tahun yang sama hanya 17 per 1.000 kelahiran hidup.

"Ini tentu masih menjadi PR besar bagi kita semua. Bagaimana agar program-program keluarga berencana dan kesehatan reproduksi ini dapat menurunkan angka kematian ibu dan anak," kata Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Dwi Listyawardani di Padang.

Dijelaskan Dwi, tingginya jumlah kematian ibu melahirkan disebabkan oleh beberapa faktor, seperti minimnya pengetahuan dalam proses kehamilan, persalinan, dan perencanaannya.

"Pengetahuan bukan hanya seputar alat-alat KB saja (akses suntik, pil dan yang lainnya) tapi pengetahuan juga termasuk kontrasepsi bagi pasangan suami istri. Kalau pasangan suami istri tahu apa saja resiko hamil terlalu muda, jarak anak yang terlalu dekat, maka semua akan direncanakan dengan baik," jelas dia.

Untuk itu, perlunya pengetahuan yang memadai bagi pasangan suami istri bahwa penyebab tidak langsung kematian ibu dan anak seperti usia yang terlalu muda atau terlalu tua melahirkan, jarak anak yang terlalu dekat, dan banyaknya jumlah anak.

"Tidak hanya suami istri, tapi semuanya mulai dari remaja, calon pengantin, dan semua pihak harus punya pengetahuan khususnya terkait kesehatan reproduksi dan program-program BKKBN lainnya," tambah dia.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Sumbar H Syahruddin menyampaikan, tingkat pengetahuan masyarakat khususnya PUS (Pasangan Usia Subur) tentang kesehatan reproduksi dan Konseling Kespro saat ini masih belum berjalan sebagaimana mestinya.

Hal ini menurutnya tentu akan berpengaruh pada peningkatan peserta ... Baca halaman selanjutnya