Naik Kapal Laut dari Papua, Sembilan Perantau Minang Mengalami Demam Tinggi

"Faktor kekurangan makanan dan perjalanan di laut membuat mereka jadi sakit"
Selmitawati saat tiba di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Senin (07/10/2019) (KLIKPOSITIF/Halbert Caniago)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Perantau Minang yang datang menggunakan kapal dari Papua ke Makasar dan dilanjutkan dengan naik pesawat ke Sumbar,ternyata banyak yang mengeluhkan kondisi kesehatan mereka.

Sebanyak sembilan orang mengalami demam tinggi saat sampai di Makasar dan langsung disambut oleh Ikatan Keluarga Minang (IKM) Makasar.

"Kami menyambut sebanyak 139 orang. Sembilan orang diantaranya mengalami demam tinggi dan dirawat di Rumah Sakit," ujar Dewan Penasehat Ikatan Perantau Minang (IKM) Makasar, Muchlis Muhammad Nur, Senin 7 Oktober 2019.

Ia mengatakan, sembilan orang yang sakit itu salah satunya adalah Selmitawati (38) yang sempat dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sulawesi Selatan.

Selmitawati menceritakan, saat keberangkatan menggunakan kapal dari Papua, dirinya kurang makan karena tidak ada perbekalan saat akan menuju pulang ke Sumatera Barat.

"Kami rencananya akan pulang sampai ke Sumatera Barat, tapi karena banyak yang sakit dan perbekalan juga kurang. Makanya kami putuskan untuk berhenti di Makasar," katanya kepada klikpositif.com.

Ia mengatakan bahwa dirinya sempat dirawat di rumah sakit saat sampai di Makasar karena kurang makan dan juga keadaan di atas kapal.

Tidak hanya dirinya, anak bungsunya yang bernama Adrian juga mengalami demam tinggi saat berada di kapal hingga tiba di Bandara Internasional Minangkabau, Senin 7 Oktober 2019.

"Ini anak saya masih sakit. Badannya masih panas dan nanti sampai di kampung akan langsung berobat," lanjutnya.

Selmitawati sangat berterimakasih kepada IKM Makasar yang telah menampung mereka sebagai pengungsi dari Papua pasca kerusuhan yang terjadi di Wamena pada 23 September 2019 lalu.

"Kami sangat berterimakasih kepada dunsanak yang ada di Makasar yang telah membantu kami hingga samapai di kampung halaman," tutupnya.

[Halbert Caniago]