10 Hari di Kampung, Begini Nasib Korban Kerusuhan Wamena asal Pessel

Sucipto
Sucipto (KLIKPOSITIF/Kiki Julnasri)

PESSEL , KLIKPOSITIF  -- Setelah 10 hari pulang, Sucipto (35) korban terdampak kerusuhan Wamena Papua tidak tahu apa yang harus dilakukan di kampung. Sebab, pulang tanpa bekal membuat dirinya terpaksa menjadi tanggungan baru bagi keluarganya.

Pria asal Nagari IV Koto Mudiek Sungai Nyalo, Kecamatan Batangkapas, Pesisir Selatan - Sumbar saat ini hanya bisa bermenung menunggu ada pekerjaan baru yang bisa dilakukan. Tapi, itu tampak hanya khayal, sebab tidak ada modal lagi yang dimiliki.

baca juga: Pasien Sembuh COVID di Pessel Bertambah Dua Orang, Total Jadi 15 Orang

"Belum tahu apa yang dilakukan. Karena saya sampai di kampung tidak ada modal lagi," ungkapnya saat ditemui KLIKPOSITIF di Batangkapas, Selasa, 15 Oktober 2019.

Meski sudah ada niat ingin bekerja, ia masih belum tahu apa yang dikerjakan. 

baca juga: Hanyut di Bendungan Lesung Air, Seorang Remaja Pessel Ditemukan Meninggal

"Kalau buka usaha baru, semua modal saya sudah habis. Jadi masih bingung mau berbuat apa, dan keluarga di kampung juga begitu (kesulitan kerja)," jelasnya.

Katanya, sejumlah pengungsi lain asal daerah tersebut juga merasakan hal yang sama. Sebab, kondisi mereka pulang dalam segala keterbatasan modal.

baca juga: Lama di Rumah Akibat Pandemi, Guru di Pessel Kembali Bertugas ke Sekolah

"Kami belum dapat bantuan apa-apa (dari pemerintah setelah di berada kampung), kecuali uang saku waktu sampai BIM kemarin (uang sumbangan yang dikumpulkan Pemrov Sumbar)," ujarnya.

Ia berharap, pemerintah daerah tanggap dengan kondisi mereka. Sebab, satu-satunya harapan mereka, bagaimana bisa membuka peluang atau alternatif lainnya untuk berusaha.

baca juga: 42 Hasil Tes Warga di Pessel Dinyatakan Negatif, 38 Orang Masih Menunggu

"Tapi kalau tidak, mungkin diantara kami akan kembali ke wamena. Semua kami sama prinsipnya. Apalagi rata-rata keluarga kami di kampung hanya bertani," sambungnya.

Sucipto juga mengaku hingga saat ini masih mengalami kurang enak badan, setelah melalui perjalanan laut dan udara. Sucipto merupakan salah seorang perantau Minang yang dievakuasi menggunakan kapal laut dari Papua ke Makassar, lalu dilanjutkan naik pesawat ke Sumbar.

"Sampai saat ini masih terasa badan saya kurang enak," tuturnya.

[Kiki Julnasri]

Penulis: Iwan R