Sikerei dan Aksi Peduli Bangsa di Pedalaman Pulau Siberut, Mentawai

"Pertama kali saya datang ke Buttui di medio 2012, saya diancam pakai parang oleh kepala suku-nya. Bahkan parang tersebut sudah diarahkan ke kepala saya"
Kepala suku pedalaman Mentawai Aman Lau-lau yang merupakan seorang Sikerei (tengah) bersama istri dan anaknya, foto bersama dengan rombongan BUMN di kediaman Aman Lau-lau. (Riki S)

Sikerei sangat kental dengan suku Mentawai di pedalaman Kepuluan Mentawai, Sumatera Barat. Setengah dekade lalu, Sikerei merupakan kelompok primitif di Indonesia. Namun berkat sentuhan Aksi Peduli Bangsa yang bersinergi dengan sejumlah BUMN, kelompok Sikerei sudah mulai bermetamorfosis menjadi generasi masa depan.

Laporan Riki Suardi-Padang

Kabupaten Kepulauan Mentawai terletak memanjang di bagian paling barat Pulau Sumatera yang dikelilingi Samudra Hindia. Pulau ini terdiri atas empat kelompok pulau utama, yaitu Pulau Siberut, Pulau Pagai Utara, Pulau Pagai Selatan, dan Pulau Sipora.

Banyak orang sudah mengenal Mentawai sebagai salah satu tempat spot surfing terbaik di dunia. Namun selain itu, di Kepulauan Mentawai juga terdapat kebudayaan yang unik dan masih sangat terjaga, begitu juga dengan alamnya yang masih eksotik.

Di Kepulauan Mentawai sendiri, terdapat suku yang namanya menyerupai nama daerah tersebut, yaitu suku Mentawai yang keberadaannya ada di pedalaman Kepulauan Mentawai. Salah satu yang menarik dari suku ini adalah "Sikerei" (sebutan seorang dukun di Mentawai,red).

Selasa (15/10) kemarin, klikpositif.com bersama rombongan dari sejumlah Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan BUMN, berkesempatan untuk mengunjungi Sikerei yang tinggal di Dusun Buttui, Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepuluan Mentawai.

Dusun Buttui berjarak sekitar 20 kilometer dari Dermaga Meilepet, Kecamatan Siberut Selatan, atau sekitar 22 kilometer dari Muara Siberut-Pusat Pemerintahan Kecamatan Siberut Selatan. Ada dua akses jalan untuk bisa sampai ke Buttui, yaitu melalui darat dan menyisiri sungai menggunakan perahu.

Namun kondisi kemarau yang sudah empat bulan lamanya terjadi di Pulau Siberut, membuat sungai yang mengalir dari Dermaga Meilepet ke Buttui menjadi dangkal. Alih-alih menggunakan sampan, kami pun bersama ... Baca halaman selanjutnya