Dapat Bantuan Dari Yayasan Rimba Indonesia, Sisra Ismail Olah Sampah Jadi BBM di "Kampung Nelayan" Pessel

Sisra Ismail saat mengolah sampah plastik menjadi BBM di Pessel
Sisra Ismail saat mengolah sampah plastik menjadi BBM di Pessel (KLIKPOSITIF/ Halber)

PESSEL , KLIKPOSITIF -- Di sudut sebuah perkampungan di Kenagarian Sungai Pinang, Kecamatan Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan-Sumatera Barat terdapat sebuah bangunan pengolahan sampah.

Siapa sangaka di perkampungan yang dipadati oleh mayoritas nelayan itu ada fasilitas pengolahan sampah menjadi Bahan Bakar Minyak ( BBM ) yang mampu menunjang masyarakat sekitar.

baca juga: Pakar UNICEF: Kualitas Gizi Anak Indonesia Terancam Turun Akibat Wabah Corona

Beberapa karung sampah berjejer di dalam bangunan berukuran kurang lebih 6X4 meter itu. Seorang lelaki menggunakan masker sedang mengotak-atik alat ang diletakkan di ruangan itu.

Namanya Sisra Ismail. Lelaki yang sudah sebulan lalu mengubah sampah menjadi BBM itu mengabdikan dirinya di Yayasan Rimba Indonesia yang memberikan bantuan alat pengolahan sampah kepada dirinya setelah mengajukan proposal dan diterima oleh yayasan tersebut.

baca juga: Batal Naik Haji Tahun Ini, Begini Cara Penarikan Kembali Dana Haji

Ia mulai memasukkan sampah plastik yang diantarkan oleh masyarakat ke dalam mesin yang didapatkan dari yayasan Rimba Indonesia.

Helai demi helai sampah dimasukkan ke dalam mesin yang terbuat dari aluminium itu. Hingga mesin itu mulai penuh dengan sampah yang ia peroleh dari masyarakat sekitar.

baca juga: Menko PMK Sebut Sekolah Harusnya yang Terakhir Dibuka

"Niatnya agar kampung kami bersih dari sampah plastik yang selama ini membuat pantai kotor," katanya sambil memungut sampah itu.

Ia mulai menyalakan mesin itu dan menyalakan kompor gas yang diletakkabn di bawah mesin sebagai alat pembakarannya.

baca juga: Pasien Sembuh COVID di Pessel Bertambah Dua Orang, Total Jadi 15 Orang

"Nanti mesinnya akan memanas dan mulai mencairkan sampah plastik yang ada di dalamnya. Saat itulah mesin ini akan mengolahnya menjadi BBM ," katanya sembari menyalakan api di kompor itu.

Setelah itu ia mulai menyalakan mesin pompa air untuk menyalurkan air ke dalam mesin dan mengeluarkannya kembali.

"Alatnya sudah mulai bekerja dan tinggal menunggu saja ia memroses sampah menjadi bahan bakar yang akan kami fungsikan untuk menghidupkan genset di penginapan milik yayasan," sambungnya.

Selang beberapa menit ia mulai memutar keran yang berada di bagian bawah sebelah ujung alat tersebut dan menampung tetesan demi tetesan BBM yang dikeluarkan.

"Yang ini untuk BBM jenis premium dan yang ini untuk BBM jenis solar," katanya sembari menunjuk dua keran yang ada di bagian bawah mesin itu.

Ia mengatakan, dirinya mampu mengolah sebanyak 10 kilogram sampah dalam sehari untuk memrosesnya menjadi BBM .

"Untuk tujuh kilogram sampah, alat ini mampu menghasilkan dua liter solar dan setengah liter premium," lanjutnya.

Ia mengatakan, alat tersebut enghasilkan 80 persen solar dan 20 persen premium dalam sekali melakukan pembakaran.

"Alat ini hanya diproduksi sebanyak 15 unit se-Indonesia dan alat ini satu-satunya di Sumatera," lanjutnya.

Masyarakat sekitar merasakan manfaat dari alat tersebut karena tidak lagi memikirkan kemana akan membuang sampah plastik yang membutuhkan waktu lama untuk melapuk.

"Setelah adanya Rumah Pengolahan Sampah ini saya tidak terlalu jauh lagi untuk membuang sampah atau menguburnya," kata seorang masyarakat sekitar, Nililkhairiah.

Ia mengatakan bahwa pihak yayasan memberikan karung kepada setiap asyarakat yang berada di sana. Saat memberikan sampah ke tempat itu, ia diberikan uang sebagai bentuk terimakasih telah menjaga kebersihan dan mau mengantarkan sampah ke tempat itu.

"Kadang diberikan uang. memang jumlahnya tidak banyak, tapi itu memberikan kami semangat agar menjaga kebersihan di kampung kami," katanya.

Ia berharap apa yang sudah ada di kampungnya itu didukung oleh pemerintah setempat. "Saya harap pemerintah melirik kampung kami dan menjadikan percontohan untuk daerah lainnya di Sumatera Barat," harapnya. [Halbert Caniago]

Penulis: Eko Fajri