Kembangkan Pesantren di Pesisir Selatan, Begini Perjuangan Heru Kisnanto

Heru Kisnanto (baju biru) bersama muridnya
Heru Kisnanto (baju biru) bersama muridnya (Istimewa)

PESSEL , KLIKPOSITIF -- Pada hari santri ke 5 tahun 2019 ini, banyak hal yang bisa petik, selain dari semangat santri itu sendiri juga dengan kemauannya dalam mempersatukan bangsa melalui lembaga pendidikan agama.

Seperti halnya yang dilakukan, Heru Kisnanto (27) asal Nagari Rawan Gunung Malelo, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan ini. Selepas mengenyam bangku pendidikan sebagai santri, kini ia mengembangkan hal tersebut dengan membangun lembaga pesantren.

baca juga: Kisah Perantau Minang Tak Bisa Pulang dari Malaysia

Heru Kisnanto sendiri adalah merupakan alumni, MTI Ashabul Yamin-Cadung
pada 2012, dan MTI Sabilul Jannah di Pessel pada 2008 dan menyelesaikan studi S1 di IAIN IB Padang yang kini UIN IB Padang tahun 2016.

Ia kini bersama pemuda yang ada di nagari tersebut saat ini tengah menghidupkan semangat santri, dengan membangun lembaga pendidikan persantren melalui yayasan yang dirintisnya dengan nama Yayasan Tarbiyah Islamiyah (MTI) Ashabul Kahfi.

baca juga: Satu Pasien COVID-19 Asal Pessel Dinyatakan Sembuh

Yayasan tersebut didirikan baru tahun lalu, tepatnya pada akhir Juni 2018 dan memulai proses belajar dan mengajar Juli 2018. Dan masih terus berkembang, walaupun belum memiliki sarana dan siswa yang memadai.

Lokasi pesantren ini, terletak sekitar 2 kilometer dari jalan raya tepat SMK 1 Negeri Sutera. Sebelah kanan dari arah selatan dan kiri dari arah Kota Painan atau Utara Kabupaten Pesisir Selatan .

baca juga: Satgas BUMN Salurkan Bantuan Penanganan COVID di Pessel

"Secara bertahap, kami dan kawan-kawan akan terus berupaya pesantern ini bisa menjadi pusat pendidikan agama di Pesisir Selatan . Dan bisa melahirkan santri-santri yang berakhlak mulia," ungkapnya saat ditemui KLIKPOSITIF ..

Melihat dari kemauan Heru dan teman-temannya sangat memacu semangat. mesti mengajar sejumlah murid di musala, dan kondisi muridnya sejak akhir 2018, hingga kini baru 8 orang.

baca juga: Jelang Lebaran, Ribuan Anak Yatim dan Piatu di Pessel Dapat Santunan dari Baznas

Meski memiliki siswa yang terbatas dan sarana yang belum ada, pihaknya tetap terus optimis. Bahkan,12 orang tenaga pengajar di pesantren tersebut belum digaji apa-apa termasuk dirinya.

"Masalah gaji (untuk guru) kita masih memakai prinsip ikhlas beramal dan pengabdian saja. Karena memang belum ada honor yang bisa diberikan," terangnya.

Sejalan dengan misi pendidikan yang di bawa, Kata Heru, pihaknya konsisten mengedukasi siswa dengan pelajaran kitab kuning atau arab gundul. Kendati demikian, pelajaran umum tidak dikesampingkan sebagai lembanga pendidikan.

"Pendidikan agama sendiri bagaimana bisa melahir calon-calon khatib atau imam. Karena melihat kondisi beragama di kampung saya hari ini sangat krisis dengan hal tersebut," tutupnya.

[Kiki Julnasri]

Penulis: Iwan R