Air Batang Maek Tercemar, Wabup 50 Kota Pantau Akitivitas Penambangan Timah Hitam

Rombongan Wakil Bupati Limapuluh Kota saat meninjau aktifitas tambang timah hitam di Tanjuang Bolik.
Rombongan Wakil Bupati Limapuluh Kota saat meninjau aktifitas tambang timah hitam di Tanjuang Bolik. (KLIKPOSITIF/Taufik Hidayat)

LIMAPULUH KOTA , KLIKPOSITIF -- Menindaklanjuti terkait matinya ribuan ikan di aliran Batang Maek di Nagari Tanjuang Pauah dan Tanjuang Bolik, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota disikapi pemerintah daerah setempat melakukan peninjauan ke lokasi, Jumat (25/10).

Rombongan tim peninjau itu dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Kabupaten Limapuluh Kota Ferizal Ridwan , turut serta di dalamnya Dinas Lingkungan Hidup, Badan SAR Nasional (Basarnas), serta sejumlah wartawan. Tim tersebut didampingi Camat Pangkalan Koto Baru dan Wali Nagari Tanjuang Pauah.

baca juga: Kodim 0306/50 Kota Renovasi 10 Rumah Veteran dan Warga Miskin di Suliki

Pada kesempatan itu rombongan tim meninjau aktifitas penambangan timah hitam oleh PT Berkat Bhineka Perkasa (BBP) yang terletak di tengah hutan Nagari Tanjuang Bolik. Di lokasi penambangan, wabup bersama rombongan memantau lokasi pembuangan limbah yang diduga sebagai salah satu penyebab tercemarnya air di sepanjang aliran Batang Maek.

Pantauan di lokasi, kondisi air Batang Maek memang terlihat cukup keruh. Air sungai sekitar 1 kilometer dari waduk PLTA Koto Panjang tersebut terlihat tenang dan berwarna coklat. Sendimen berupa lumpur dan sisa limbah tambang diduga menjadi pemicu terjadinya pencemaran air Batang Maek.

baca juga: Bupati Lima Puluh Kota Tinjau Puskesmas Taram

Setelah melakukan memantau langsung aktifitas penambangan, Wakil Bupati Limapuluh Kota Ferizal Ridwan mengaku belum bisa berspekulasi perihal penyebab matinya ribuan ikan di aliran Batang Maek itu.

"Nanti, kita akan teliti dulu kandungan air sungai, baik di hulu dan hilir. Hasil uji laboratorium akan menentukan penyebabnya," katanya di sekitar lokasi tambang.

baca juga: Kabar Baik, Pasien Pertama Positif COVID-19 di Payakumbuh Dinyatakan Sembuh

Pada saat melakukan pemantauan tersebut, Ferizal juga sempat bertemu dan memintai keterangan dari pengelola perusahaan tambang timah hitam tersebut.

"Saya juga tadi konsultasi dengan Konsultan Lingkungan dari PT BBP. Ia mengakui, memang ada kebocoran pengolahan limbah, tapi membantah penyebab pencemaran dari limbah tambang. Makanya, ini butuh kajian teknis, termasuk buat penanganannya. Kita akan lakukan rapat koordinasi," tutur Ferizal.

baca juga: Ingin Bantu Swab Lima Puluh Kota, Petugas Kesehatan Payakumbuh Balik Kanan

Ferizal turut meminta, agar masyarakat mengurangi aktifitas di dalam sungai termasuk mengkonsumsi air dan ikan di aliran Batang Maek, sampai kondisi air benar-benar steril. Hal tersebut guna menghindari warga dari resiko kesehatan apabila terkotaminasi air yang tercemar.

Terkait kewenangan dan izin perusahaan tambang, sesuai UU Kehutanan dan Pertambangan, Ferizal menyebut sejak 2016 lalu berada di pemerintah provinsi.

"Makanya, pengawasannya juga kewenangan provinsi. Berdasarkan hasil kajian, pemkab melalui Pak Bupati nanti hanya bisa menetapkan kondisi pencemaran, guna menanggulangi dampak resiko ke masyarakat. Sesuai aturan, ini bisa kita lakukan," tegasnya kemudian. (*)

Penulis: Taufik Hidayat