Ketua KPI Pusat Ingatkan Hal Ini Terkait Berita Kebencanaan

"Kadang, untuk menyajikan pemberitaan yang wah melupakan unsur kemanusiaan dan lari dari nilai jurnalistik"
Ketua KPI Pusat Yuliandre Darwis (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir )

PADANG, KLIKPOSITIF - Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Yuliandre Darwis menyatakan, kecenderungan media dalam kewenangan KPI (Televisi dan Radio) yang memfreming berita bencana terkesan bombastis sehingga mengandung unsur menakutkan.

"Kadang, untuk menyajikan pemberitaan yang wah melupakan unsur kemanusiaan dan lari dari nilai jurnalistik," katanya saat menjadi pembicara dalam pelatihan Bimbingan Teknis Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana Bagi Jurnalis Media Informasi Cetak dan elektronik Sumbar, di Hotel Rocky, Bukittinggi, Rabu malam, (30/10).

Sebagai contoh, ada stasiun yang menayanyangkan gambar korban bencana sehingga berdampak kepada sanksi dari KPI. Sebaliknya seharusnya media harus bisa menjadi pembantu dalam memulihkan keadaan saat terjadi bencana alam.

"Apalagi di wilayah Sumatra Barat merupakan daerah rawan bencana dan memiliki banyak jenis bencana alam. Walaupun jurnalis saat ini sudah memahami bagaimana cara pemberitaan dalam menghadapi bencana. Namun memang harus tetap diingatkan," katanya.

Ia mengatakan saat dulu gempa di Padang seringkali framing dari media yang mengerikan, seperti menampilkan gambar korban dan memutarkan suara-suara korban bencana yang ketakutan. Menurutnya ada beberapa media yang hadir saat bencana turut memberikan solusi, seperti memberitakan solusi untuk orang yang hilang.

"Poinnya, berita bencana jangan menakutkan melulu. Tapi kalau sekarang sudah jauh lebih baik. Ini perilaku yang diciptakan teman-teman jurnalis yang tidak hanya memberitakan, tapi bisa membantu saat bencana," ulasnya. (*)