Cerita Saksi Mata Banjir Bandang Solok Selatan, Dengar Letusan Keras Hingga Hampir Kehilangan Keluarga

"Saat saya melihat keadaan di luar, anak saya yang paling kecil langsung menangis karena melihat air sudah mulai deras dari arah atas"
Ultra Caniago (51) mengangkat puing-puing hasil amukan alam yang memporak porandakan rumahnya (KLIKPOSITIF/ Halber)

SOLSEL, KLIKPOSITIF -- Beberapa hari pasca banjir bandang menghantam kediamanya, Ultra Caniago (51) dengan alat seadanya mulai mengangkat puing-puing hasil amukan alam yang memporak porandakan rumahnya di Jorong Sapan Salak, Kenagarian Pakan Rabaa, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD), Kabupaten Solok Selatan.

Kejadian amukan alam pada Minggu 24 November 2019 malam tersebut masih membekas di benak Lelaki paroh baya itu. Meski tetap mencoba membersihkan material yang terbawa oleh banjir bandang dalam bencana tersebut, saat ini keadaan rumahnya milik Ultra Caniago ini tidak layak lagi untuk ditempati. Dinding bagian belakang rumahnya ambruk, begitu pula dengan dinding samping kiri.

Sambil membersihkan material yang menghantam rumahnya, Ultra Caniago bercerita dan mengingat kejadian lima hari yang lalu. Kejadian itu masih membekas jelas dalam benaknya. Kejadian yang membuatnya hampir kehilangan istri dan tiga orang anaknya.

"Saat itu sekitar pukul 19.00 WIB saya sedang menonton televisi, istri saya sedang menyetrika pakaian dan ketiga anak saya sedang mengerjakan pekerjaan rumah," ujarnya kepada klikpositif.com, Kamis 28 November 2019.

Ia mendengar bunyi letusan yang sangat keras di bagian belakang rumahnya dan seluruh isi rumah terkejut.

"Hujan sangat deras waktu itu dan saya mendengar suara letusan yang sangat keras di bagian belakang rumah. Kami kira itu suara petir," lanjutnya.

Beberapa saat setelah itu, ia langsung merasakan air yang masuk ke dalam rumahnya dan ia membuka jendela rumah untuk melihat keadaan diluar.

"Saat saya melihat keadaan di luar, anak saya yang paling kecil langsung menangis karena melihat air sudah mulai deras dari arah atas," ujarnya.

"Saya mulai panik, tak tahu apa yang akan dilakukan hingga anak bungsunya yang bernama Fandi terseret air hingga tiga meter. Saya langsung menyelamatkan anak saya dan membawanya ke tempat yang lebih aman," ... Baca halaman selanjutnya