Derita Aina, Bocah Malang dengan Tumor Ganas dan Kanker Kulit di Padang Pariaman

"semestinya sudah harus mendapatkan penanganan medis untuk operasi. Namun belum juga sampai sekarang."
Aina saat digendong orangtuanya di kediaman mereka di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (KLIKPOSITIF/ Rahesa)

PADANG PARIAMAN, KLIKPOSITIF -- Aina Talita Zahran, sunyi pekiknya menahan tangis setiap hari. Dia, bocah 3,5 tahun yang malang, sebelah matanya buta, karena tumor ganas bahkan kangker kulit menggerayangi tubuh mungilnya.

Tinggal bersama orangtuannya di Lorong-lorong sunyi pada malam hari di Jorong Palanggaran, Nagari Campago Selatan, Padang Pariaman, saksi betapa perihnya sakit yang dirasa Aina. Ketika anak-anak seumur dia lelap pulas, Aina masih saja bergumam pada Ibunya "Mata Aina Perih Mak".

Aina adalah anak sulung dari Adi Syahputra dan Zetris Melinda yang terus tabah dan memberikan semangat kepada Aina.

Saat ditemui di rumahnya, Melinda, ibu Aina tengah mengendong buah hatinya itu. "Aina tak pernah lelap dengan pulas, sebentar-sebentar dia menjerit kesakitan," sebut Melinda sambil mengusap kepala Aina.

Sembari memberikan keterangan, Ibu muda itu terus saja menenangkan Aina yang sedang menangis. Pada mata Aina yang masih utuh, mengalir air mata, rintikan air matanya cepat seperti memohon pada matanya yang sakit itu.

Ibu Aina mengatakan lagi, berdasarkan diagnosa dokter di RSUP M. Djamil Padang, Aina menderita susp squamous cell carcinoma atau kanker kulit dan Tumor ganas.

"Itulah sakit yang diderita anak pertama kami. Bahkan ia tak boleh kena cahaya matahari. Tubuh dan wajah Aina bintik-bintik hitam akibat kangker kulit," jelas Melinda.

Pada awalnya, ucap Melinda lagi, anaknya lahir dengan keadaan normal. "Tak tampak yang ganjal pada Aina. Namun pada umur satu tahun baru tampak apa yang diderita Aina, kulitnya tumbuh bintik hitam," kata Melinda. Semenjak itu dokter mengatakan kalau Aina kangker kulit.

Saat dimintai keterangan, Melinda seperti menahan sesak pada nafasnya, sekali-kali dia menghela nafas, menatap terus mata Aina dalam-dalam, "Sayang Amak pada Aina nak," bisik Melinda.

Adi, ayah Aina juga mendampingi saat itu. Dia juga ayah yang tabah, paling tidak bolak ... Baca halaman selanjutnya