Mencicipi Apel Babungkuih Kampung Alai Limau Gadang Lumpo

Apel Kampung Alai Limau Gadang Lumpo Pessel
Apel Kampung Alai Limau Gadang Lumpo Pessel (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir )

PESSEL, KLIKPOSITIF - Ada masakan unik yang diberi nama "Apel Bangkuih" di Kampung Alai Limau Gadang Lumpo, Kabupaten Pesisir Selatan.

Sambil berbincang-bincang dengan tamu yang datang dari Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Barat (DLH Sumbar) warga setempat terus menawarkan apel dari kampung mereka.

Rasa penasaran rombongan DLH Sumbar pun muncul, apa yang sebenarnya dalam bungkus daun pisang uang dijejer di ruang pertemuan kantor walinagari itu.

Baca Juga

Apel merupakan singkatan dari abuih pelo atau ubi jalar rebus jika dibahasa indonesiakan dari bahasa daerah tersebut. Sedangkan bungkuih adalah bungkus. Jadi apel babungkuih yang dikatakan masyarakat setempat itu ada rebus ubi jalar yang dibungkus dengan daun pisang. 

Dalam bungkusannya Apel ditambahkan dengan kelapa parut yang diberi garam secukupnya untuk bumbu lahap.

Walinagari Limau Gadang Lumpo Nasrul Dt. Rajo Bagindo menjelaskan, telah mendapat penghargaan Program Kampung Iklim (Proklim) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLKH), warga setempat terus menjauhi kebiasaan menggunakan plastik.

Warga setempat membiasakan diri menggunakan bahan dari alam dan tidak mengganggunakan plastik. Kebiasaan itu dimulai dari setiap pertemuan di nagari. Hidangan yang disuguhkan ke tamu menggunakan daun, sedotan air yang biasanya menggunakan plastik diganti dengan batang padi.

"Kami mulai dari hal-hal kecil, ditularkan ke masyarakat setempat," terangnya sambil meminta untuk dicicipi.

Tak hanya kebiasaan menggunakan bahan dari alam untuk kegiatan-kegiatan nagari. Kelompok Tani Batu Carano yang telah mendapatkan penghargaan Proklim itu juga membuat himbau kreativitas agar tidak buang air besar (BAB) di sungai dengan bahasa setempat seperti "Indak Bulieh Cirik Karayieh" (Dilarang BAB di sungai).

"Ini sebagai himbauan kepada warga setempat dan pengunjung. Pengunjung akan bertanya apa arti dari himbauan tersebut sehingga terjadi komunikasi dengan warga," sambung Darpius Indra Kabid Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan di Dinas Lingkungan Hidup Pessel.

Himbauan dari spanduk ukuran kecil tersebut dipajang di pinggir-pingir sungai.

Kemudian, selain penggunaan bahan ramah lingkungan, beberapa program sudah mulai berjalan seperti pengelolaan sampah plastik, biogester, menanam tanaman dipekarangan serta membuat himbauan untuk tidak buang air besar (BAB) dengan bahasa lokal. Selain itu juga dilakukan pembinaan terhadap masyarakat setempat dan kampung disekitar Proklim.

Ditambahkan petugas TNKS Rika Putra Abas, berbagai inovasi dilakukan di Kampung Alai. Saat ini sudah ada pengunjang ekowisa seperti atraksi arum jeram dan tubing yang pertama di Pessel.

"Alhamdulillah pengunjung kami mencapai 250 orang dihari libur. Walaupun begitu kami tetap berharap bantuan peralatan terutama alat pengolah sampah plastik. Sebab saat ini masih diolah manual," katanya. (*) 

Video

Kakek yang Viral Beli Obat dengan Uang Mainan Akan Segera Umrah

YouTube channel KlikPositif.com

Penulis: Joni Abdul Kasir