Liputan LGBT, Jurnalis Jangan Hanya Cari Banyak Klik

Seminar Nasional HAM Kemerdekaan Pers Perlindungan dan Keselamatan Jurnalis di Indonesia
Seminar Nasional HAM Kemerdekaan Pers Perlindungan dan Keselamatan Jurnalis di Indonesia (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir )

JAKARTA, KLIKPOSITIF - Isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) kerap kali dijadikan untuk menutup-nutupi isu besar di Republik ini.

Kecenderungan pemberitaan LGBT akan muncul diawal dan diakhir tahun, berita kaum minoritas ini juga akan sangat laris di tahun politik dan lebih miris lagi untuk menutupi kasus besar.

"Biasanya begitu," katanya perwakilan Arus Pelangi, Riska Carolina saat menjadi pembicara dalam seminar nasional "HAM, Kemerdekaan Pers Perlindungan dan Keselamatan Jurnalis di Indonesia" di Kedutaan Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Selasa, 10 Desember 2019.

Baca Juga

Pemberitaan LGBT akan menjadi isu global dan senter dibicarakan. Sehingga terjadi persekuksi, hujatan dan carut-marut terhadap LGBT, sedangkan media mendapatkan klik yang banyak dari pembaca.

"Jurnalis jangan hanya mencari banyak klik. Perlu diketahui ada kasus HAM disitu, pelaku LGBT selalu jadi bulan-bulanan," ujarnya.

Untuk itu jurnalis harus paham betul dengan HAM serta mengetahui lebih dalam terkait LGBT. Dijelaskannya, isu LGBT mulai bombastis sejak 2016, padahal waktu itu tentang pendidikan seks yang tidak pernah dibuka oleh negara.

"Dari situ awalnya sehingga banyak LGBT mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari berbagai pihak," ujarnya.

Untuk itu dia berharap media dan jurnalis berimbang dalam melakukan peliputan isu HAM termasuk terhadap LGBT.

"Kami tidak ingin melegalkan perkawinan sejenis. Kami hanya ingin diperlakukan sama seperti manusia lain," ungkapnya.

Sementara itu Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Abdul Manan menjelaskan, jurnalis memiliki tantangan dalam mencover isu HAM dan minoritas di tahun politik.

Menurutnya, wartawan wajib membela masyarakat minoritas. Memberikan perhatian pada kasus pelanggaran HAM. "Jangan sampai hak dasar diganggu . Kalau pemerintah dibiarkan merampas hak orang lain, suatu saat dia akan merampas hak kita," ujarnya.

Dijelaskannya, banyak macam pelanggaran HAM atas nama pembangunan, penghapusan kekerasan dan diskriminasi oleh negara dan kelompok mayoritas terhadap minoritas karena perbedaan gender, agama, orientasi seksual, etnis, dan lain-lain masih terjadi. Tidak terkecuali yang menimpa para wartawan.

"Kekerasan HAM masih terjadi, dan penyelesaiannya masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah saat ini," tukasnya. (*)

Video

Sumbar Kesulitan Solar

YouTube channel KlikPositif.com

Penulis: Joni Abdul Kasir