Menjaga Sungai Batanghari Merawat Pamalayu

Jembatan Sungai Dareh dialiran Sungai Batanghari
Jembatan Sungai Dareh dialiran Sungai Batanghari (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir)

PADANG, KLIKPOSITIF - Selepas Jumatan, matahari mulai beranjak ke hulu jembatan Sungai Dareh, di pinggir Sungai Batanghari (tidak jauh dari jembatan) seorang lelaki paruh baya sedang mencoba menerka-nerka kapan air sungai yang mengalir didepannya mulai menguning.

Samsul Anwar (59) warga Jorong Pasar Lama, Kenagarian Pulau Punjung, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya itu berusaha terus mengingat kapan tahun pastinya air Sungai Batanghari mulai keruh, menguning dan tercemar.

Kondisi air dibawah Jembatan Sungai Dareh

Air sungai menguning dibawah jembatan Sungai Dareh (Foto/Joni Abdul Kasir) 

"Sekitar tahun 2000 keatas. Sebab sebelum itu kami masih bisa mandi di sungai," katanya memulai ingatan untuk berkisah tentang kondisi Sungai Batanghari kepada KLIKPOSITIF saat ditemui dipingir sungai dekat bekas pasar itu, Sabtu 28 November 2019.

Dulu, dari pinggir sungai masyarakat setempat masih bisa melihat ikan-ikan dan bebatuan dari kejauhan. Begitu jernihnya air sungai kala itu, kini tinggal kenangan.

Baca Juga

Sungai menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat, mulai dari mencuci hingga mandi. "Dulu di sungai ko la kehidupan kami (dulu di sungai inilah kehidupan kami)," katanya sambil menunjuk ketepian.

Dia pun sempat menggantungkan hidup dari sungai sebagai pelansir karet dari Sungai Dareh ke hulu Jambi. Saat itu akses darat ke Jambi belum begitu baik. Anwar juga bolak-balik melansir kendaraan dari Jambi ke Pulau Punjung.

"Kini, tak ada yang bisa dilakukan di sungai, apalagi sejak air mulai kotor akibat penambangan emas ilegal," ungkap Samsul sambil berharap air sungai kembali seperti masanya dulu.

Ponton pelansir tidak jauh dari Komplek Candi Pulau Sawah (Foto/Joni Abdul Kasir) 

Cerita Anwar diperkuat Ketua KAN Pulau Punjung Anwar Datuak Mangguyang. Sekitar tahun 1990 Sungai Batanghari yang mengaliri Dharmasraya merupakan sumber perekonomian bagi masyarakat yang tinggal disekitar aliran sungai. Terutama bagi masyarakat Kenagarian Pulau Punjung, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya.

Di sungai tempat mereka mencari ikan, mendulang emas serta jalur perlintasan menuju Jambi. Sungai itu juga menjadi jalur merantau orang dari Sungai Pagu, Solok Selatan ke Jambi.

Hingga 1990 air sungai masih bersih, sebegitu bersihnya dijadikan air minum oleh masyarakat setempat. Bahkan saat berdiri di pinggir sungai dari jarak sepuluh meter masih kelihatan ikan dalam air, begitu juga bebabatuan tampak jelas dari kejauhan.

Ketua KAN Pulau Punjung Anwar Datuak Mangguyang (Foto/Joni Abdul Kasir) 

Buktinya, pada masa itu di Pasar Lama ikan-ikan segar dari sungai sangat banyak diperjualbelikan masyarakat setempat. Kini, kondisi itu tinggal kenangan. Begitu cerita Anwar Datuak Mangguyang berkisah saat ditemui di kediaman di Pulau Punjung, pada hari yang sama.

"Sekitar tahun 2000 keatas, air sungai yang bersih itu perlahan berubah menjadi kuning," kata Datuak dari suku Mandailiang itu.

Sekarang, hanya sekali setahun bisa melihat air sungai jernih. Ketika hari raya idul fitri, saat itulah penambang ilegal berhenti mengeruk emas disepanjang Sungai Batanghari. Itupun tidak berlangsung lama. Ikan pun demikian, sudah tidak banyak lagi karena disetrum para penjarah menggunakan sampan.

Ditengah kepesimisannya melihat maraknya penambang ilegal, lelaki yang genap 70 tahun itu berharap pemerintah bisa mengembalikan jernih air Sungai Batanghari. Tidak hanya tambang yang dikhawatirkan Anwar, dampak merkuri (raksa) juga menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat dipinggir sungai. "Ini menyangkut masa depan anak cucu kami kedepannya," tukasnya.

Pada hari berikutnya, dibagian hilir jembatan Sungai Dareh tiga orang pekerja bangunan sedang asyik mempercantik jembatan dikomplek Candi Pulau Sawah. Walaupun rumput - rumput tampak mulai tumbuh disekitar dilaksanakan Karnaval Arung Pamalayu ini.

Sedangkan di Komplek Candi Padangroco juga ditemukan pekerja bangunan yang sedang membangun sesuatu dipintu masuk komplek Candi Padangroco. Dibagian lain KLIKPOSITIF menemukan spanduk informasi dengan tulisan "BUKIT BARHALO RAMBAHAN” tempat ditemukan Arca Amoghapasa, dilokasi ini hanya terlihat kebun karet dan semak belukar.

Lokasi ditemukannya Arca Amoghapasa (Foto/Joni Abdul Kasir) 

Pemerintah Kabupaten Dharmasraya tengah fokus melakukan pembenahan disekitar komplek peninggalan raja Aditiyawarman itu. Dinas Pariwisata setempat menargetkan 2022 semua bangunan pariwisata sejarah dan budaya itu telah selesai.

Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan sedang berupaya agar Sungai Batanghari bisa kembali bersih, menjadi sumber perekonomian masyarakat, tempat berlalu lalang wisatawan mengunjungi peninggalan sejarah mereka.

Upaya yang dilakukan Sutan Riska Tuanku Kerajaan sama halnya yang dilakukan melalui raja - raja Dharmasraya terdahulu. Bedanya, dulu raja membangun kontak dagang dan hubungan antar kerajaan, kini, raja muda itu bersitungkin membangun kerja sama untuk penyelamatan Batanghari dengan wilayah DAS (daerah aliran sungai) Batanghari seperti Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Solok di Provinsi Sumatera Barat, Kabupaten Tebo, Kabupaten Batanghari, Kabupaten Muaro Jambi, Kota Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur di Provinsi Jambi.

Lebih jauh, Pemkab setempat berencana akan mambuat rest area di bawah Jembatan Sungai Dareh, kemudian menyediakan alat transportasi dilengkapi paket perjalanan wisata arung Sungai Batanghari untuk sampai kebeberapa candi.

"Kami juga sedang mengumpulkan kepingan - kepingan peninggalan masa lalu dari kerajaan Dharmasraya. Beberapa yang telah ditemukan mulia kami pelihara dan renovasi," kata Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga Dharmasraya, Benny Mandala Putra.

Saat ini sedang dibuat jembatan kayu berswafoto di kawasan Candi Padang Sawah sebagai daya tarik pariwisata. Sedangkan bangunan tambahan di Komplek Candi Padangroco untuk persiapan ulang tahun Dharmasara tahun yang jatuh pada 7 Januari 2020.

Salah satu Candi di Komplek Candi Padangroco (Foto/Joni Abdul Kasir) 

“Pengembangan pariwisata ini harus dibarengi dengan usaha menjernihkan air sungai, sebab butuh kerja sama antar daerah. Alasan itu juga kami melaksanakan beberapa rangkaian kegiatan di sungai dengan melibatkan berbagai pihak,” ujarnya.

Menurutnya, pencemaran sungai cukup kompleks dan butuh dukungan dari berbagai pihak pusat, provinsi serta daerah aliran. Sebab penyebab pencemaran mulai dari tambang ilegal, sampah bahkan merkuri.

Dinas Lingkungan Hidup Dharmasraya menegaskan Sungai Batanghari saat ini menjadi sangat berbahaya bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Selain itu, ikan-ikan yang ada di sungai sudah tidak bisa lagi dikonsumsi, lantaran telah terpapar merkuri.

Kerusakan DAS Batanghari yang melewati wilayah Sumbar dan Jambi akibat pencemaran merkuri sudah semakin mengkhawatirkan. Untuk itu, butuh tindakan segera dan kerjasama dari berbagai pihak terkait demi menyelamatkan DAS terbesar kedua di Indonesia itu.

“Hasil penelitian Institut Teknologi Bandung (ITB), beberapa waktu lalu ditemukan ada logam berat dalam kandungan ikan. Sementara, bagi anak-anak butuh penelitian lanjutan,” kata Kasi Pengendalian dan Pencemaran Lingkungan Hendra Yadi Sumitri saat ditemui diruang kerjanya. 

Walaupun demikian, Pemkab Dharmasraya tidak diam dan telah melakukan berbagai upaya, salah satunya melalui festival Pamalayu dengan mengadakan berbagai kegiatan di pinggir sungai dan candi. Mendatangkan Kepala Staf Kepresidenan RI, Moeldoko saat Hari Maritim Nasional yang dilaksanakan di pinggir sungai Pulau Sawah.

Sungai di Pulau Sawah tempat berlangsungnya  Hari Maritim Nasional (Foto/Joni Abdul Kasir) 

"Pak Bupati juga mendatangkan Kepala BNPB Doni Monardo sebagai bentuk Rencana aksi penyelamatan Batanghari dan dilanjutkan rapat bersama di Jakarta sebagai tindak lanjut penyelamatan Batanghari," tuturnya.

Tidak cukup sampai disitu, Bupati telah memerintahkan Sekretaris Daerah Adlisman, untuk membangun kerjasama dengan delapan kabupaten dan kota seiliran Batanghari.

Sungai Batanghari dalam Sejarah Kerajaan Dharmasraya

Pada masa lampau, sungai sebagai jalur transportasi perdagangan maupun penyebaran kebudayaan. Tempat berlalulalangnya saudagar, agamawan termasuk penguasa daerah. Bisa dikatakan sungai merupakan urat nadi dari kerajaan-kerajaan di Nusantara ini termasuk bagi kerajaan yang ada di Sumatra. Seperti pentingnya Sungai Batanghari bagi Kerajaan Dharmasraya.

Sungai Batanghari memiliki panjang 800 kilometer dan lebar 500 meter dangan kedalaman 5 meter. Sehingga cocok untuk berlalulalang kapal-kapal perdagangan dari Muara Jambi di selat Malaka sampai kepedalaman Sumatra Barat.

Sungai inilah yang dilewati utusan Kerajaan Singasari sekitar abad ke-13 untuk sampai di Kerajaan Dharmasraya membawa misi persahabatan yang kemudian disebut Ekspedisi Pamalayu. Kata Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Puslit Arkenas saat dihubungi, Sabtu, 29 November 2019.

Pada masa itu Kerajaan Singasari dibawah kepemimpinan Raja Kertanegara mendapatkan tekanan dari Kekaisaran Tiongkok di Utara. Sedangkan disaat bersamaan sekitar abad ke-13, Dharmasraya yang mulanya pusat pemukiman berkembang menjadi kerajaan yang disegani hingga ke tanah Jawa.

Dijelaskan Bambang, dulu Pulau Sumatra terdapat pusat-pusat pemukiman dekat sungai seperti di Palembang dekat Sungai Musi ada pusat pemukiman yang kemudian berkembang menjadi Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Tulang Bawang di Lampung, dan di Sungai Batanghari muncul Kerajaan Dharmasraya.

"Pusat pemukiman ini muncul sebagai kekuatan politik akibat dari majunya perdagangan. Pada abad ke-7 muncul Kerajan Sriwijaya dialiran sungai Musi dan sangat disegani pada abad ke-8 dan 9. Sementara di Sungai Batanghari, muncul Kerajaan Dharmasraya pada abad ke-13 dan cukup disegani kala itu bahkan sampai ke Singasari”.

“Bahkan, kemungkinan kejayaan Dharmasraya sudah berlangsung sejak abad ke-10 sebab disitu ditemukan keramik-keramik dinasti Tang,” kata Bambang.

Ekspedisi Pamalayu bukan sebagai ekspedisi kekuatan militer untuk menaklukkan Kerajaan Dharmasraya. Dibuktikan dengan ditemukan Arca Amoghapasa. Arca ini dikirim Raja Kertanegara sebagai hadiah kepada raja dan rakyat kerajaan malayu Dharmasraya. Isinya “ Pemberian hadiah dari Sri Maharaja Kartanegara kepada Dharmasraya, agar raja dan rakyat Dharmasraya bersuka cita".

"Buktinya tertulis dalam prasasti Dharmasraya yang terdapat dibagian lapik Arca Amoghapasa," ujarnya. Masih di sekitar lokasi yang sama, juga ditemukan Arca Bhairawa yang dipercaya sebagai wujud Raja Adityawarman.

Berdasarkan peninggalan arkeologis daerah teritorial Adityawarman meliputi wilayah Dharmasraya, wilayah Tanah Datar, dan Wilayah Pasaman. Diantara ketiga wilayah tersebut, wilayah Dharmasraya mempunyai kemungkinan yang lebih besar sebagai pusat kerajaan Adityawarman (Malayu - Dharmasraya).

Keberadaan dan kebesaran Dharmasraya bisa dilihat dari perspektif ‘peradaban sungai’ dengan menggunakan teori ‘hulu-hilir’. Dihulu Batanghari terdapat tinggalan budaya masa lampau, secara tradisional Minangkabau termasuk dalam Luhak Tanah Datar dengan daerah rantaunya pada masa kini termasuk dalam wilayah Kabupaten Dharmasraya (dahulu Kabupaten Sawahlunto-Sijunjung) dan Solok.

“Di daerah ini sedikitnya terdapat empat buah situs. Mulai dari Situs Padangroco, Situs Bukik Awang Maombiak, Situs Pulau Sawah dan Situs Rambahan,” terang Bambang.

Raja Adityawarman dan keturunannya yang berpusat di wilayah Dharmasraya berkembang karena menguasai distribusi komoditi perdagangan di daerah hulu Sungai Batanghari dan Rokan.

Sedangkan daerah hilir Sungai Batanghari di Jambi terdapat beberapa situs arkeologi yang diduga kuat peninggalan kerajaan Malayu - Dharmaraya seperti Situs Muara Jambi, Situs Koto Kandis, Situs Muara Kumpeh, Situs Solok Sipin. “Situs-situs tersebut diperkirakan berasal dari abad 10 - 13 Masehi,” tukas Bambang.

Penulis: Joni Abdul Kasir | Editor: Khadijah