Ini Empat Sebaran Penggalian Emas Tanpa Izin di Sumbar

Penambangan emas
Penambangan emas (Net)

PADANG, KLIKPOSITIF - Direktur Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Rudi Syaf menyebut tantangan pengelolaan sumber daya alam dan kawasan hutan berkelanjutan di Sumatera Barat dihadapkan pada persoalan penambangan ilegal (illegal mining). Rudi menyebut ini persoalan yang banyak terjadi.

"Berdasarkan analisis sebaran PETI (Penggalian Emas Tanpa Izin) GIS KKI Warsi per Desember 2019, sebaran lokasi PETI di Sumatera Barat secara parsial tersebar di empat kabupaten yang meliputi Kabupaten Sijunjung, Solok, Solok Selatan , dan Dharmasraya dengan total luasan emncapai 4.169 Ha," katanya usai kajian akhir tahun KKI Warsi di Padang, Senin, 23 Desember 2019.

BACA JUGA: Selama Dua Tahun, Sumbar Kehilangan Lebih 23 Ribu Hektar Lahan

Baca Juga

"Detail sebaran lokasi PETI di masing-masing kabupaten-kabupaten meliputi Kabupaten Sijunjung yakni di sepanjang aliran Batang Palangki yang mengarah ke Kabupaten Sijunjung dan Aliran Batang Gumanti menuju Aliran Batanghari. Untuk Kabupaten Solok Selatan sebaran PETI berada di sepanjang aliran sungai Anduriang ke sungai Batanghari, sepanjang aliran Batang Pamungan serta sungai AMpang Bolai menuju ke sungai Batanghari. Sedangkan untuk Kabupaten Dharmasraya sebaran PETI berada di Nagari Koto Padang, Muaro Batang Momong dan Batanghari, Nagari Gunung Medan serta sepanjang aliran sungai Koto Balai," jelasnya.

Rudi menyebut terkait daerah yang melakukan PETI, justru mendapat respon yang baik dari pemerintah daerah dengan melakukan tindakan nyata. "Contohnya pada Bupati Solok Selatan , saat kita melihatkan data ini, pihaknya sangat responsif dengan mendorong dinas dan instansi terkait serta pihak keamanan melakukan tindakan nyata terhadap pihak-pihak yang melakukan kegiatan itu," tuturnya.

Ia menyebut bahwa untuk Solok Selatan , beberapa tahun belakangan aktif memerangi PETI yang tersebar di daerah itu. "Namun kita tetap melihat kemampuan besar ini dimiliki oleh pemerintah pusat dalam memeranginya. Salah satunya dengan upaya BNPB yang mengkoordinir beberapa kabupaten untuk kembali melakukan upaya-upaya penindakan emas tanpa izin," tuturnya.

Ia menuturkan konsekuensi logis yang mesti dihadapi dari akibat yang ditimbulkan, oleh adanya penurunan areal kawasan dan tutupan hutan serta sebaran PETI di Sumatera Barat sepanjang tahun 2019 adalah terjadinya banjir. "Bencana banjir bandang dan longsor terjadi hampir di seluruh kawasan Sumatera Barat; bencana kekeringan di Dharmasraya, Bukittinggi, Padang, Lima Puluh Kota, Pasaman, Pesisir Selatan, Sijunjung, Solok, dan Solok Selatan ," jelasnya.

Sementara itu, hal lain yang juga terjadi yaitu konlik satwa dan pencemaran sungai hingga ke daerah hilir. "Melihat dan menelisik pada temuan data dan fakta upaya penanganan serius melalui berbagai skema lingkungan dan konservasi harus segera dilakukan," jelasnya. (*)

Baca Juga

Penulis: Fitria Marlina

Video Terbaru

Kakek yang Viral Beli Obat dengan Uang Mainan Akan Segera Umrah

YouTube channel KlikPositif.com