Amerika - Iran Memanas, Perantau Minang di Amerika Mengaku Masih Aman

Ilustrasi
Ilustrasi (Istimewa)

PADANG, KLIKPOSITIF - Serangan udara Amerika Serikat yang menewaskan Jenderal Iran Qasem Soleimani pada Jumat (3/1/2020) di Bandara Internasional Baghdad memicu panasnya hubungan kedua negara.

Tak tinggal diam, Iran pun membalas serangan rudal yang dilancarkan ke Pangkalan Militer AS di Irak pada Rabu (8/1/2020). Konflik bersenjata ini tentunya akan berpengaruh kepada banyak hal, termasuk keamanan para perantau minang di kedua negara tersebut.

Tarmizi salah seorang perantau Minang di Amerika Serikat saat dihubungi KLIKPOSITIF via WhatsApp mengaku hingga saat ini kondisi di Amerika masih aman dan terkendali.

Baca Juga

"Sejauh ini kondisi disini masih aman-aman saja," katanya, Jumat, 10 Januari 2020.

Dia menyampaikan, di Amerika pemberitaan soal memanasnya hubungan kedua negara tersebut tidak begitu hangat sehingga tidak berpengaruh kepada psikologis warga Indonesia maupun perantau Minang di Amerika.

"Disini TV tidak terlalu hangat beritanya,

Alhamdullah kita aman saja," katanya lagi.

Hal yang sama juga disampaikan Aswita. Menurutnya, persoalan tersebut tidak begitu menjadi perhatian warga Amerika maupun pendatang, sebab Amerika masih terlalu kuat untuk Iran.

"Namun, semuanya berada di tangan Allaah, betapa kuatnya satu bangsa, kalau Allaah SWT sudh menghendaki hancur, "KUN FAYAKUUN". Kita semua memohon perlindungan Allaah dari semua malapetaka. Aamiin," tambah Aswita.

Sebelumnya, Kepala Biro Kerjasama Pembangunan dan Rantau Sumbar Luhur Bidianda menyatakan, hingga saat ini belum mendapatkan informasi terkait perantau minang di kedua negara yang bertikai.

"Kami belum dapat informasi dan perkembangan perantau di Amerika Serikat maupun di Iran. Kami menunggu informasi dari Kemenlu sebab Kemenlu yang lebih bersentuhan dengan warga negara Indonesia disana. Kami juga tidak punya akses dengan perantau di dua negara itu," ujarnya.

Selain itu, Budi mengaku tidak punya data berapa jumlah perantau minang yang ada di Amerika Serikat maupun di Iran. Dia menilai Kemenlu lebih tepat menjawab terkait pertanyaan bagaimana kondisi perantau minang didua negara tersebut. (*)

Editor: Joni Abdul Kasir