Lagi Naik Daun dan Masuk TV, Ini Kisah Pilu Salman Sanduak

Salman 'Sanduak'
Salman 'Sanduak' (Rizal)

BUKITTINGGI,KLIKPOSITIF -- Salman (36) atau lebih dikenal warganet sebagai Uda Sanduak, mendadak beken.

Namanya melambung, setelah ia diundang stasiun televisi swasta karena berjualan sambil bernyanyi. Ia menyanyikan lagu "Sanduak" ciptaannya sendiri yang viral di media sosial. Kini, dagangan sanduak (sendok) nya laris manis dan banjir endorse di Instagram.

Keterkenalannya, buah dari kerjakerasnya melewati tahun-tahun penuh sengsara yang pernah dialaminya.

Baca Juga

KLIKPOSITIF menjumpai pria kocak ini di bengkelnya di kampung halamannya, di Jorong Lasi Mudo, Nagari Lasi, Kecamatan Canduang, Agam-Sumbar, Senin 13 Januari 2020, untuk menggali kisah hidupnya yang sarat perjuangan.

Sebelum terkenal seperti sekarang, Salman adalah pedagang asongan yang terbilang sangat gigih. Bayangkan, pada tahun 2012, ia harus menjajakan dagangannya berupa barang pecah-belah dengan mendorong gerobak sejauh 20 kilometer pulang pergi, tiap hari, dari Lasi-Bukittinggi.

"Tahun 2004, saya berhenti sekolah di Tarbiyah Pasia, saya hanya tamat kelas Tsanawiyah. Tiada biaya untuk melanjutkan. Orangtua saya cuma petani, saya tak iri melihat orang bersekolah, sebab saya mengukur ekonomi keluarga," kenang bungsu dari 3 bersaudara itu.

Lantas, ia pun mulai bepergian ke berbagai daerah, hingga pada 2005 ia memutuskan menggembala kerbau. Di saat senggang, ia pun mulai bergadang.

"Dua tahun kemudian, saya berdagang secara serius di dekat Pasar Lasi. Dagang telur gelung, 3 tahun lamanya," katanya.

Pada 2009, ia menukar barang yang akan dijualnya. Kali ini, pria yang masih lajang itu mulai berdagang kelontong seperti sampo, barang harian, dan ikon dagangnya Sanduak, ke Bukittinggi dengan mendorong gerobak.

"Ada 2 tahun saya berjalan kaki mendorong gerobak. Badan ini tegap dibuatnya, kulit pun hitam legam terpanggang matahari. Saya mendapat banyak gunjingan, tapi tak saya hiraukan, sebab saya butuh makan,"sambungnya.

Karena kuat berusaha, akhirnya mulai berbuah hasil. Tahun 2012, ia mampu membeli becak motor seharga 20 juta rupiah. Dengan kendaraan itu, Salman bisa berdagang di 5 kabupaten dan kota di Sumbar, tetap dengan berbagai macam barang hariannya.

Salman mengaku, di tiap pasar kehadirannya selalu ditunggu ,sebab ia pintar melawak. Ia sering berkreasi menciptakan lagu untuk dagangannya demi memancing pembeli dan menghibur pedagang.

Nah, salah satu lagu ciptaannya setahun silam adalah Sanduak, yang viral dan membuat orang tersenyum.

Sanduak adalah sendok pengaduk gulai yang terbuat dari bahan bambu dan tempurung. Produk ini merupakan hasil karya yang diproduksi Salman.

Sanduak Salman dijual dengan harga murah, 2 biji 5 ribu rupiah. Meski terbilang cukup laris, tak jarang dalam sekali berdagang ia pun pernah tak dapat penglaris.

"Pernah saya dagang dari pagi, tak jua pecah telur hingga siang, saya terpaksa makan pagi pukul 1 siang karena tak ada duit,"sebutnya.

Selain itu, becak motor miliknya pun pernah terbalik dan rusak di daerah sepi.

"Telah banyak yang saya alami selama hidup, saya tak mendengar ocehan orang. Saya terus bekerja keras dan yakin Tuhan akan membuka pintu rezeki," katanya.

Sekarang, kendati ia sangat terkenal dimana-mana, terutama di wilayah Bukittinggi-Agam, pria ini masih tetap riang dan sederhana, dan juga mengemban misi mulia untuk membawa Sanduak nya mendunia.

"Saya ingin bikin pabrik kerajian lokal seperti Sanduak, ingin membuka lapangan kerja bagi anak negeri," ungkapnya optimis. (*)

Editor: Haswandi