Penyelamatan Danau Maninjau dan Singkarak Masuk Daftar Prioritas Nasional

Danau Maninjau
Danau Maninjau (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir)

PADANG, KLIKPOSITIF - Pencemaran Danau Maninjau da Singkarak masuk daftar prioritas nasional untuk segera diselamatkan. Pasalnya kerusakan dua danau tersebut sudah menjadi perhatian banyak pihak termasuk pusat.

Penyelamatan dua danau tersebut tinggal menunggu keputusan presiden karena empat Kementerian telah menyetujui, yakni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), PUPR, Pertanian dan Kementerian Perikanan.

"Kalau sudah ada Perpres berarti sudah ada payung hukum. Anggarannya sudah ada," kata Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit, Rabu, 19 Februari 2020.

Baca Juga

Nasrul Abit menjelaskan, menjadi prioritas nasional, anggaran penyelamatan akan banyak dari pusat (lintas Kementerian).

"Sama seperti tol Padang-Pekanbaru, anggarannya tidak terbatas termasuk lama penyelamatan," terangnya.

Oleh karena itu, lanjut Nasrul, perlu adanya sinergitas lintas sektor agar pemanfaatan danau dapat dilakukan secara optimal. Dia menyampaikan, karena sudah ada anggaran, perlu segera mengambil langkah-langkah strategis serta menyusun rencana untuk menyelamatkan kedua danau tersebut.

"Karena anggaran ada, kita dahulukan skala prioritas. Sengaja kita undang instansi terkait untuk bisa terjun langsung ke lapangan, untuk mengambil langkah-langkah penyelamatan kedua danau tersebut," katanya.

Dijelaskannya, pencemaran Danau Maninjau dan Danau Singkarak sebagian besar disebabkan oleh praktek budidaya ikan yang tidak memerhatikan keberlangsungan danau dan ekosistem yang terkandung di dalamnya.

Pemberian pakan ikan yang berlebihan membuat danau tercemar, ditambah perilaku masyarakat sekitar yang kerap membuang limbah ke dalam danau juga membuat pencemaran semakin sulit diatasi.

"Permasalahan kedua danau tersebut berbeda, sementara danau maninjau sekarang airnya sudah tidak layak lagi dikonsumsi masyarakat. Dikarena limbah pakan ikan sudah mencapai 6 meter kedalamannya. Kalau danau Singkarak pelaku jaring dengan menggunakan bagan-bagan dan sering melakukan pengeboman membuat biota danau mati," jelas Nasrul Abit.

Terkait dengan aksi masyarakat bagan di Singkarak, Wagub melarang keras lakukan jaring kecil dan pengeboman tersebut.

Menurutnya, penggunaan bom akan mematikan ikan tangkapan dan merusak makhluk hidup di perairan secara luas serta menyebarkan polutan dan racun yang bisa membahayakan manusia. Dia menuturkan razia terhadap penggunaan bom tersebut akan segera dilakukan pihak terkait.

Selain penggunaan bom ikan, bagan dan keramba masih banyak terdapat di perairan Danau Singkarak. Namun, dari dua jenis alat itu, bagan dinilai lebih memberikan efek buruk pada kelangsungan ikan endemik Singkarak, yaitu ikan bilih.

Sementara untuk danau maninjau , pemerintah bersama masyarakat harus mengambil tindakan dengan cara mengurangi jumlah keramba jaring apung. Karena jalan pengerukan sisa pakan ikan yang ada di dasar danau tidak efektif, perlu terobosan agar dapat mengatasi permasalahan pengelolaan danau agar mampu memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

"Semua ini kita lakukan agar kedua danau ini bisa diselamatkan dari pencemaran, sehingga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat," harapnya. (*)

Baca Juga

Editor: Joni Abdul Kasir

Video Terbaru

Kakek yang Viral Beli Obat dengan Uang Mainan Akan Segera Umrah

YouTube channel KlikPositif.com